29 Juli 2007
Penguasa atau Penghibur
PENGUASA DAN PENGHIBUR. “Penguasa, Raja, Presiden, Perdana Menteri, kadang-kadang harus mengambil keputusan yang tidak populer dan mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang. Sebaliknya, seorang penghibur harus meraih popularitas. Kian banyak pujian dan tepuk tangan karena peran yang dibawakannya, semakin berhasillah ia sebagai penghibur.” - Asnawin Aminuddin -
28 Juli 2007
Merasa Mampu
Merasa Mampu
(Oleh: Asnawin)
NEGERI Antah-berantah sedang punya hajatan. Beberapa bulan ke depan, rakyat akan memilih Pemimpin Negeri. Ada lima pasangan kandidat pemimpin.
Dari 10 kandidat tersebut, hanya satu yang berkelamin perempuan. Namanya, La Becce, dan ia akan maju sebagai kandidat 01.
Walaupun berkelamin perempuan, ia merasa mampu memimpin negeri dongeng tersebut. Ia diusung Partai Demokrasi Antah-berantah. Pasangannya seorang kiyai yang memimpin sebuah organisasi keagamaan.
Kandidat kedua adalah Pemimpin Negeri yang sedang berkuasa, sedangkan pasangannya seorang profesor. Sang pemimpin usianya sudah agak uzur, tetapi ia merasa masih mampu memimpin lima tahun ke depan. Pasangan ini diusung Partai Manjulang Langit yang merupakan partai terbesar di Negeri Antah-berantah.
Kandidat ketiga seorang ustaz muda. Ia mantan aktivis mahasiswa dan kini menjadi anggota Parlemen Rakyat Antah-berantah mewakili Anak Negeri Suka Wangsit. Meskipun tidak punya pengalaman di bidang pemerintahan dan usianya baru sekitar 40 tahun, ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri dan bertekad memberantas korupsi. Pasangannya seorang pengusaha. Mereka berdua diusung dua partai berbasis agama dan beberapa partai non-kursi.
Kandidat keempat mantan Kepala Staf Panglima Perang yang tentu saja lebih banyak berada di belakang meja. Badannya tinggi besar tapi berpembawaan tenang. Sangat jauh dari kesan sangar, angker, atau semacamnya sebagaimana umumnya mantan anggota pasukan keamanan.
Dengan berbekal pengalaman di bidang keamanan negeri dan pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, ia sudah merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri. Ia berpasangan dengan seorang pengusaha yang tinggi badannya hanya sekitar 160 cm (tinggi badan rata-rata rakyat Negeri Antah-berantah berdasarkan hasil survey yaitu 172 cm).
Pasangan ini diusung Partai Demonstrasi untuk Rakyat, sebuah partai baru yang pada pemilu raya lalu keluar sebagai peraih suara terbanyak kedua.
Kandidat kelima yaitu Wakil Pemimpin Negeri yang memilih 'bercerai' untuk berlawanan dengan Pemimpin Negeri pada pemilu raya nanti. Sebagai mantan Pemimpin Anak Negeri Suka Wangsit selama hampir dua periode, tentu saja ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri.
Ia memilih berpasangan dengan Ketua Parlemen Rakyat Antah-berantah. Mereka diusung tiga partai yang kursinya cukup banyak di parlemen.
Karena pemilu raya sudah dekat, suasana negeri pun menjadi lebih ramai dari biasanya. Baliho, poster, dan umbul-umbul para pasangan kandidat menghiasai berbagai jalan, lorong, perumahan, warung kopi, dan berbagai tempat lainnya. Berbagai jargon politik dan janji dari para kandidat juga tidak ketinggalan.
Pembicaraan mengenai pemilu raya pun begitu ramai, mulai dari kantor-kantor pemerintahan, kantor bank, kampus, hingga di pasar tradisional. Di warung kopi apalagi, karena orang bisa ngobrol berjam-jam sambil memandang foto para kandidat Pemimpin Negeri di dinding.
Di sebuah warkop, empat orang yang berbeda usia dan latar belakang sedang asyik ngobrol ngalor-ngidul, tetapi seperti biasa pembicaraan tentang politik dan pemilu raya lebih dominan.
''Kita seharusnya bersyukur karena lima kandidat Pemimpin Negeri bersama wakilnya masing-masing, adalah orang-orang hebat. Ada ustaz, ada mantan Pemimpin Anak Negeri, ada perempuan, ada mantan wakil panglima perang, dan juga masih ada Pemimpin Negeri kita yang akan berpasangan dengan seorang profesor,'' tutur orang pertama yang wartawan sebuah koran harian.
''Mereka memang orang-orang hebat, tetapi belum tentu bisa mengubah keadaan. Belum tentu bisa mengurangi pengangguran. Belum tentu bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belum tentu bisa meringankan biaya pendidikan,'' ujar orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan.
''Kalau tidak bisa mengubah keadaan, itu berarti mereka hanya merasa mampu, tetapi sebenarnya tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin,'' kata orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.
Profesor dan Orang Gila
Orang keempat yang pemimpin umum sebuah tabloid mingguan mengingatkan bahwa orang pintar belum tentu pandai. Orang pandai belum tentu mampu menjadi pemimpin.
Dia kemudian menceritakan tentang pertemuan seorang profesor dengan seorang gila yang sama-sama memancing di pinggir kali, tetapi sang profesor tidak tahu kalau orang yang ada di sampingnya adalah orang gila. Kebetulan di dekat mereka ada seekor katak yang cukup besar.
"Berapa lompatan yang diperlukan katak itu untuk sampai ke seberang kali?" tanya si gila.
Sang profesor memperkirakan lebar kali kurang lebih 1.250 meter, sedangkan katak besar itu dia perkirakan mampu melompat sejauh 50 cm, maka ia menyimpulkan bahwa katak itu butuh 2.500 lompatan.
Orang gila di sampingnya tertawa-tawa mendengarkan jawaban sang profesor. Dia mengatakan, katak itu hanya butuh dua kali lompatan untuk sampai di seberang kali.
Sang profesor tentu saja heran dan mulai curiga bahwa orang di sampingnya itu tidak waras.
''Lompatan pertama ke air. Setelah itu katak akan berenang. Sampai di ujung, katak baru akan melompat lagi ke darat,'' jelas si gila lalu tertawa lebih keras lagi.
Mendengar cerita tersebut, tiga rekan minum kopinya tak bisa menahan tawa. Suasana warung kopi pun menjadi ramai oleh tawa mereka.
Setelah tawa mereka agak reda, orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan, kemudian berkata; ''Dan kita semua bisa seperti profesor itu.''
Warung kopi lagi-lagi dipenuhi tawa keempat orang itu.
Orang kedua melanjutkan; ''Mudah-mudahan para kandidat Pemimpin Negeri kita tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.''
Sepulang dari warung kopi, orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta merasa mendapatkan bahan cerita untuk dibagikan kepada mahasiswanya. Ia juga menyadari bahwa orang yang pandai dalam logika, bisa saja bodoh terhadap realita.
Orang pandai, orang yang pernah memimpin perguruan tinggi, orang yangberpengalaman di birokrat, orang yang ahli strategi perang di militer, orang yang menguasai ilmu agama, orang yang sudah malang-melintang di dunia politik, orang yang aktif di LSM, orang yang sukses di dunia usaha, mungkin banyak yang merasa mampu menjadi pemimpin.
Seperti orang kedua di warung kopi yang pensiunan pejabat pemerintahan, sang dosen pun berharap para kandidat Pemimpin Negeri tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.
Makassar, 6 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 7 Mei 2007)
(Oleh: Asnawin)
NEGERI Antah-berantah sedang punya hajatan. Beberapa bulan ke depan, rakyat akan memilih Pemimpin Negeri. Ada lima pasangan kandidat pemimpin.
Dari 10 kandidat tersebut, hanya satu yang berkelamin perempuan. Namanya, La Becce, dan ia akan maju sebagai kandidat 01.
Walaupun berkelamin perempuan, ia merasa mampu memimpin negeri dongeng tersebut. Ia diusung Partai Demokrasi Antah-berantah. Pasangannya seorang kiyai yang memimpin sebuah organisasi keagamaan.
Kandidat kedua adalah Pemimpin Negeri yang sedang berkuasa, sedangkan pasangannya seorang profesor. Sang pemimpin usianya sudah agak uzur, tetapi ia merasa masih mampu memimpin lima tahun ke depan. Pasangan ini diusung Partai Manjulang Langit yang merupakan partai terbesar di Negeri Antah-berantah.
Kandidat ketiga seorang ustaz muda. Ia mantan aktivis mahasiswa dan kini menjadi anggota Parlemen Rakyat Antah-berantah mewakili Anak Negeri Suka Wangsit. Meskipun tidak punya pengalaman di bidang pemerintahan dan usianya baru sekitar 40 tahun, ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri dan bertekad memberantas korupsi. Pasangannya seorang pengusaha. Mereka berdua diusung dua partai berbasis agama dan beberapa partai non-kursi.
Kandidat keempat mantan Kepala Staf Panglima Perang yang tentu saja lebih banyak berada di belakang meja. Badannya tinggi besar tapi berpembawaan tenang. Sangat jauh dari kesan sangar, angker, atau semacamnya sebagaimana umumnya mantan anggota pasukan keamanan.
Dengan berbekal pengalaman di bidang keamanan negeri dan pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, ia sudah merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri. Ia berpasangan dengan seorang pengusaha yang tinggi badannya hanya sekitar 160 cm (tinggi badan rata-rata rakyat Negeri Antah-berantah berdasarkan hasil survey yaitu 172 cm).
Pasangan ini diusung Partai Demonstrasi untuk Rakyat, sebuah partai baru yang pada pemilu raya lalu keluar sebagai peraih suara terbanyak kedua.
Kandidat kelima yaitu Wakil Pemimpin Negeri yang memilih 'bercerai' untuk berlawanan dengan Pemimpin Negeri pada pemilu raya nanti. Sebagai mantan Pemimpin Anak Negeri Suka Wangsit selama hampir dua periode, tentu saja ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri.
Ia memilih berpasangan dengan Ketua Parlemen Rakyat Antah-berantah. Mereka diusung tiga partai yang kursinya cukup banyak di parlemen.
Karena pemilu raya sudah dekat, suasana negeri pun menjadi lebih ramai dari biasanya. Baliho, poster, dan umbul-umbul para pasangan kandidat menghiasai berbagai jalan, lorong, perumahan, warung kopi, dan berbagai tempat lainnya. Berbagai jargon politik dan janji dari para kandidat juga tidak ketinggalan.
Pembicaraan mengenai pemilu raya pun begitu ramai, mulai dari kantor-kantor pemerintahan, kantor bank, kampus, hingga di pasar tradisional. Di warung kopi apalagi, karena orang bisa ngobrol berjam-jam sambil memandang foto para kandidat Pemimpin Negeri di dinding.
Di sebuah warkop, empat orang yang berbeda usia dan latar belakang sedang asyik ngobrol ngalor-ngidul, tetapi seperti biasa pembicaraan tentang politik dan pemilu raya lebih dominan.
''Kita seharusnya bersyukur karena lima kandidat Pemimpin Negeri bersama wakilnya masing-masing, adalah orang-orang hebat. Ada ustaz, ada mantan Pemimpin Anak Negeri, ada perempuan, ada mantan wakil panglima perang, dan juga masih ada Pemimpin Negeri kita yang akan berpasangan dengan seorang profesor,'' tutur orang pertama yang wartawan sebuah koran harian.
''Mereka memang orang-orang hebat, tetapi belum tentu bisa mengubah keadaan. Belum tentu bisa mengurangi pengangguran. Belum tentu bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belum tentu bisa meringankan biaya pendidikan,'' ujar orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan.
''Kalau tidak bisa mengubah keadaan, itu berarti mereka hanya merasa mampu, tetapi sebenarnya tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin,'' kata orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.
Profesor dan Orang Gila
Orang keempat yang pemimpin umum sebuah tabloid mingguan mengingatkan bahwa orang pintar belum tentu pandai. Orang pandai belum tentu mampu menjadi pemimpin.
Dia kemudian menceritakan tentang pertemuan seorang profesor dengan seorang gila yang sama-sama memancing di pinggir kali, tetapi sang profesor tidak tahu kalau orang yang ada di sampingnya adalah orang gila. Kebetulan di dekat mereka ada seekor katak yang cukup besar.
"Berapa lompatan yang diperlukan katak itu untuk sampai ke seberang kali?" tanya si gila.
Sang profesor memperkirakan lebar kali kurang lebih 1.250 meter, sedangkan katak besar itu dia perkirakan mampu melompat sejauh 50 cm, maka ia menyimpulkan bahwa katak itu butuh 2.500 lompatan.
Orang gila di sampingnya tertawa-tawa mendengarkan jawaban sang profesor. Dia mengatakan, katak itu hanya butuh dua kali lompatan untuk sampai di seberang kali.
Sang profesor tentu saja heran dan mulai curiga bahwa orang di sampingnya itu tidak waras.
''Lompatan pertama ke air. Setelah itu katak akan berenang. Sampai di ujung, katak baru akan melompat lagi ke darat,'' jelas si gila lalu tertawa lebih keras lagi.
Mendengar cerita tersebut, tiga rekan minum kopinya tak bisa menahan tawa. Suasana warung kopi pun menjadi ramai oleh tawa mereka.
Setelah tawa mereka agak reda, orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan, kemudian berkata; ''Dan kita semua bisa seperti profesor itu.''
Warung kopi lagi-lagi dipenuhi tawa keempat orang itu.
Orang kedua melanjutkan; ''Mudah-mudahan para kandidat Pemimpin Negeri kita tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.''
Sepulang dari warung kopi, orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta merasa mendapatkan bahan cerita untuk dibagikan kepada mahasiswanya. Ia juga menyadari bahwa orang yang pandai dalam logika, bisa saja bodoh terhadap realita.
Orang pandai, orang yang pernah memimpin perguruan tinggi, orang yangberpengalaman di birokrat, orang yang ahli strategi perang di militer, orang yang menguasai ilmu agama, orang yang sudah malang-melintang di dunia politik, orang yang aktif di LSM, orang yang sukses di dunia usaha, mungkin banyak yang merasa mampu menjadi pemimpin.
Seperti orang kedua di warung kopi yang pensiunan pejabat pemerintahan, sang dosen pun berharap para kandidat Pemimpin Negeri tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.
Makassar, 6 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 7 Mei 2007)
Perselingkuhan Politik
Perselingkuhan Politik
(Oleh: Asnawin)
Hampir setiap hari, Gogo Putih ke warkop. Sebagai seorang pengusaha yang juga terjun ke dunia politik, dia merasa perlu bahkan hampir mewajibkan dirinya ke warkop setiap hari. Kalau ada hari yang terlewatkan, itu pasti karena dirinya sedang sibuk.
Suatu pagi, dia berangkat dari rumah menuju kantornya. Dia memang selalu ke kantor terlebih dahulu untuk memberikan pengarahan atau sekadar menyapa karyawannya, sebelum ke warkop. Kalau ada urusan penting, ke warkopnya bisa lebih siang atau lebih sore lagi. Yang pasti, dia selalu meluangkan waktu ke warkop.
Di tengah perjalanan menuju kantornya, Gogo Putih merasakan ada keanehan. Dia merasa jalanan yang di tempuhnya agak berbeda dari biasanya, malahan terlalu asing baginya. Model rumah, model kantor, dan orang-orang yang ditemuinya semuanya begitu berbeda.
Di depan sebuah kafe, dia menghentikan mobilnya dan kemudian masuk. Seorang perempuan pelayan kafe datang menyodorkan daftar menu, tetapi tanpa membaca daftar menu, dia langsung memesan kopi susu, roti bakar kaya, dan telur ayam kampung setengah masak dua butir. Si pelayan tampak heran, tetapi ia segera meninggalkan Gogo Putih yang tampak tenang-tenang saja meskipun diliputi keheranan.
Sebelum pesanannya datang, seseorang berpakaian safari yang di belakangnya menyusul beberapa orang berpakaian hitam-hitam, mendatanginya dan langsung menyapa dengan akrab.
''Sudah lama saya ingin bertemu dengan anda. Apa kabar,'' kata pria bersafari dan memakai kaca mata itu sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Gogo Putih.
Gogo Putih memperkirakan usia pria tanpa kumis itu sekitar 50 tahun dan kuat dugaannya bahwa orang itu adalah pejabat di pemerintahan, karena di kantongnya terpasang pin bundar berwarna kuning keemasan. Dia kemudian melirik ke meja sebelah dan menghitung ada lima pria berpakaian hitam yang mengawal si pejabat.
Meskipun tidak mengenal pria itu, Gogo Putih tetap tenang dan sambil tersenyum menyambut uluran tangan si pejabat dan mereka pun bersalaman erat sambil tersenyum.
''Saya baik-baik saja, tetapi saya heran karena tiba-tiba saja saya sudah berada di kota ini,'' ujar Gogo Putih.
Seorang wanita pelayan datang sambil membawa kopi susu, roti bakar kaya, dan telur setengah matang pesanan Gogo Putih, sekaligus membawa jus durian untuk sang pejabat. Gogo Putih dan si pejabat bersamaan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kepada si pelayan yang kebetulan berwajah manis.
Si pejabat kemudian membuka pembicaraan tentang calon pasangannya dalam pemilihan gubernur (pilgub) beberapa bulan mendatang. Calon pasangannya itu seorang pria yang usianya lebih muda lima tahun, tetapi sudah menjabat ketua dewan perwakilan rakyat dan menduduki jabatan strategis di partainya.
''Banyak yang mendukung kami dan mereka optimis kami akan menang dalam pilgub nanti,'' ujar si pejabat.
''Bagaimana dengan partai pendukung anda?'' tanya Gogo Putih.
''Dari empat parpol pendukung, ada dua yang bersandiwara di media,'' kata si pejabat.
''Bersandiwara bagaimana?'' tanya Gogo Putih lagi.
''Ketuanya bilang tidak bisa menerima calon pasangan saya, karena berasal dari partai lain yang tidak mendukung saya. Tetapi saya yakin keduanya kemungkinan besar akan menerima siapapun yang akan saya pilih untuk menjadi calon wakil saya,'' tutur si pejabat.
''Kelihatannya anda begitu yakin?'' ujar Gogo Putih.
''Karena saya sudah beberapa kali membantu mereka, baik kepada pribadi ketuanya, maupun kepada partainya,'' ungkap si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup,'' kata Gogo Putih.
''Kami juga sudah ada 'deal-deal' politik, baik untuk menghadapi Pemilu mendatang, maupun dalam pilkada beberapa kabupaten dan kota,'' papar si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup untuk memenangkan pilgub nanti. Anda juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang KPU, serta para bupati dan walikota,'' kata Gogo Putih.
''Saya bersama tim saya sudah berupaya. Mudah-mudahan ada kesepahaman di antara kami nanti,'' kata si pejabat.
Tiba-tiba ponsel si pejabat berdering.
''Maaf, saya terima telepon dulu,'' kata si pejabat lalu berbicara dengan seseorang di balik telepon.
''Maaf, saya sudah dari tadi ditunggu untuk menghadiri suatu acara. Saya tinggal dulu, nanti kita ketemu lagi,'' kata si pejabat lalu bersalaman dengan Gogo Putih dan kemudian pergi bersama lima pengawalnya.
Tak lama kemudian, ponsel Gogo Putih juga bergetar. Sebelum getarannya hilang dan berubah menjadi bunyi, dia langsung mengangkatnya.
''Warkop menunggu kehadiran anda, teman-teman sudah menunggu,'' terdengar suara seorang pria dari balik telepon.
''Saya memang mau ke warkop, tetapi sekarang saya berada di sebuah kota yang sangat asing,'' kata Gogo Putih.
''Jangan-jangan anda kesasar ke Negeri Antah-berantah,'' kata pria itu sambil tertawa.
''Saya tidak tahu, tetapi saya benar-benar ingin pulang,'' kata Gogo Putih.
''Saran saya, tenangkan diri sejenak lalu berdoa, kemudian anda naik ke mobil dan membawanya dengan santai,'' kata pria itu lagi.
Gogo Putih kemudian mengikuti saran itu dan entah bagaimana tiba-tiba dia sudah berada di jalan menuju warkop tempat pria yang menelepon tadi sedang ngopi dengan beberapa rekannya.
Makassar, 29 April 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 30 April 2007)
Ujian Provinsi
Ujian Provinsi
LOGIKANYA, kalau ada ujian nasional (bagi siswa SMA dan sekolah sederajat, serta SMP dan sekolah sederajat), maka tentu ada pula ujian provinsi, ujian kabupaten/kota, dan seterusnya.
Begitu pun kalau ada bencana nasional, maka tentu ada juga bencana provinsi, bencana kabupaten/kota, dan seterusnya.
Apakah pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel termasuk ujian atau bencana?
Menurut kamus, ujian adalah pemeriksaan, cobaan, atau sesuatu yang dipakai untuk menguji mutu sesuatu (kepandaian, kemampuan hasil belajar, dsb). Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan, malapetaka, kecelakaan, marabahaya.
Dari pengertian itu, pilgub Sulsel jelas merupakan ujian bagi pemerintah dan masyarakat Provinsi Sulsel. Pilgub mudah-mudahan belum sampai kepada bencana, karena belum ada kesimpulan bersama bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut-sebut sebagai bakal calon gubernur, telah menimbulkan kesusahan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan, atau marabahaya.
Sebagai ujian, dapatkah pemerintah provinsi Sulsel bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, melaksanakan pilgub secara demokratis, jujur, transparan, tertib, dan lancar?
Di sisi lain, apakah masyarakat sudah siap menyongsong atau ogah-ogah saja menghadapi pilgub?
Bagaimana kalau yang akan bersaing dalam pilgub adalah bagian dari unsur pemerintahan? Bagaimana kalau yang akan bersaing untuk menjadi gubernur adalah orang yang kini masih menjabat gubernur versus orang yang juga masih menjabat wakil gubernur (wagub)?
Jabatan dan fasilitas yang melekat pada diri gubernur dan wagub tentu sulit dipisahkan. Masyarakat kadang-kadang bingung dan bertanya-tanya kalau gubernur dan wagub melakukan perjalanan/kunjungan ke luar kota, atau menerima tamu dan mengadakan kegiatan di rumah jabatan. Apakah perjalanan atau kunjungan keluar kota itu dalam kapasitas sebagai gubernur/wagub, ataukah sebagai pribadi/pengurus organisasi?
Pertanyaan itu wajar diutarakan, karena tidak jarang, gubernur dan wagub menghadiri kegiatan yang sebenarnya bisa diwakilkan kepada Sekretaris Provinsi, Asisten Sekprov, Kepala Dinas, Kepala Badan, atau Kepala Biro. Kegiatan itu bahkan selama ini 'tidak dilirik' oleh bupati dan mewakilkannya kepada pejabat di lingkup pemerintah kabupaten.
Masyarakat juga heran, karena sekitar satu tahun terakhir ini, gubernur dan wagub begitu sering melakukan perjalanan atau kunjungan keluar kota. Gubernur dan wagub juga tidak terlalu sulit membagi waktu untuk menghadiri berbagai kegiatan di dalam kota.
''Padahal selama ini gubernur lebih banyak di kantor,'' kata seorang teman saat ngopi bersama beberapa teman lain di salah satu warkop.
''Itu dulu. Sekarang 'kan masyarakat ingin bertemu langsung dengan gubernurnya, dan sebaliknya gubernur juga ingin memberikan pelayanan maksimal kepada rakyatnya,'' timpal teman yang lain.
''Bagaimana kalau gubernurnya 'oppo' (terpilih kembali menjadi gubernur)? Apakah beliau masih mau lebih banyak keluar kota dan menghadiri berbagai kegiatan? Apakah beliau akan melakukannya selama lima tahun?'' tanya teman yang pertama.
''Jangko marah belah,'' kata teman yang kedua mencairkan suasana.
Kami semua lalu tertawa.
Obrolan warung kopi itu sepertinya sepele, karena memang sudah menjadi perbincangan atau bahkan bahan guyon di warkop, tetapi pertanyaan ''Apakah beliau masih mau lebih banyak keluar kota dan menghadiri berbagai kegiatan? Apakah beliau akan melakukannya selama lima tahun?'', mungkin perlu menjadi bahan pertimbangan bagi gubernur yang ingin maju kembali dalam pilgub.
Kalau seorang gubernur terlalu sering keluar kota, melakukan kunjungan, atau menghadiri berbagai kegiatan, mungkin saja masyarakat atau orang-orang yang bertemu dengan beliau akan senang. Apalagi kalau gubernur memberikan bantuan. Tetapi bukankah itu berarti gubernur jarang berada di kantor? Bukankah itu berarti gubernur jarang melaksanakan tugas sehari-hari di kantor?
''Yang aneh, bapak wagub kita ikut-ikutan sering keluar kota dan banyak menghadiri berbagai kegiatan,'' ujar seorang teman pada kesempatan lain saat ngopi di warkop.
''Tapi saya sukaji Pak Wagub, karena beliau juga masih sempat meluangkan waktu duduk-duduk di warung kopi. Itu berarti beliau adalah bagian dari komunitas kita, komunitas warga warung kopi,'' kata teman lain sambil tertawa.
Seringnya gubernur dan wagub keluar kota, melakukan kunjungan, atau menghadiri berbagai kegiatan, baru satu sisi. Masih banyak sisi lain dari kedua figur sentral ini, baik dalam kapasitasnya sebagai birokrat, sebagai pengurus organisasi, maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Masyarakat tidak bisa dilarang untuk menilai. Masyarakat tidak bisa dilarang untuk menyimpulkan. Masyarakat tidak bisa dilarang untuk memilih, bahkan masyarakat juga tidak bisa dilarang untuk tidak memilih. Karena pilgub ini adalah ujian provinsi. Ujian bagi masyarakat, ujian bagi pemerintah, dan ujian bagi anggota KPU.
Semoga kita lulus dalam ujian itu. Semoga pilgub ini tidak membawa bencana.***
Makassar, 22 April 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 23 April 2007)
Politik itu Cair
Langganan:
Postingan (Atom)

