----
Selasa, 06 Januari 2026
LANSKAP
Berenang atau Tenggelam di Area Politik
Oleh: Asnawin Aminuddin
GOGO Putih sedang berbincang santai dengan
cucunya, Musa Hitam, di dangau. Diiringi suara jangkrik dan burung-burung,
serta ditemani ubi rebus hangat dan kopi tubruk, kedua lelaki berbeda usia
cukup jauh itu, berbincang-bincang tentang berbagai hal, mulai masalah keluarga
hingga pemilihan kepala daerah (pilkada).
Ketika berbincang tentang pilkada, Musa
Hitam mengungkapkan uneg-unegnya.
“'Kek, saya sebenarnya tidak setuju kalau
ulama dan profesor maju sebagai calon gubernur atau calon wakil gubernur,”
katanya.
Mendengar pernyataan cucunya itu, Gogo
Putih tidak langsung bertanya, tetapi tangan kanannya bergerak mengangkat
cangkir yang ada di depannya dan menyeruput kopi tubruknya yang sudah agak
dingin.
“Mengapa kamu tidak setuju?” tanya sang
kakek setelah menurunkan kembali cangkirnya.
“Ulama itu ‘kan pemuka agama yang bertugas
mengayomi, membina, dan membimbing umat Islam, baik dalam masalah-masalah
agama, maupum masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan
maupun sosial kemasyarakatan,” jawab Musa Hitam.
“Lalu, bagaimana dengan profesor?” tanya
sang kakek.
“Profesor itu ‘kan guru besar. Sebuah
jabatan akademik di perguruan tinggi. Mereka adalah pakar dalam salah satu atau
beberapa bidang ilmu. Selain mengajar, profesor juga wajib melakukan
penelitian, melakukan pengabdian kepada masyarakat, serta membimbing para dosen
muda dan mahasiswa supaya kelak bisa menjadi asisten profesor atau menjadi
profesor,” papar Musa Hitam.
“Apa masalahnya kalau ulama dan profesor
ingin menjadi gubernur?” tanya sang kakek.
“Masalahnya, Pilkada dan jabatan gubernur
itu area politik. Areanya para politisi. Bukan areanya para ulama dan profesor,”
kata Musa Hitam.
Dia kemudian mengemukakan pendapatnya
bahwa ulama dan profesor belum tentu cocok 'hidup' di area politik, dan bisa
dipastikan mereka tidak akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara
optimal sebagai ulama atau sebagai profesor.
Ulama dan profesor, kata Musa Hitam,
selalu berbicara hal-hal yang ideal, sedangkan di dunia politik, apalagi
seseorang yang menjabat gubernur, banyak masalah yang harus dihadapi dan tidak
semua bisa diatasi secara ideal.
“Ketika seseorang sudah masuk ke area
politik, termasuk dengan menjadi kandidat gubernur atau kandidat wagub, maka ia
pasti berhadapan dengan banyak hal yang tidak ideal,” tandas Musa Hitam.
“Jadi, kamu tidak setuju kalau ulama atau
profesor menjadi gubernur?” tanya sang kakek.
“Ya,” tegas Musa Hitam.
Profesor dan Nelayan
“Saya bukan setuju atau tidak setuju. Saya
menghargai niat baik ulama atau profesor yang ingin menjadi gubernur.
Mudah-mudahan kalau terpilih nanti, mereka tetap konsisten dengan keulamaan
atau keprofesorannya. Saya cuma khawatir kalau mereka sudah melakukan
pelanggaran moral dan melawan kata hatinya dalam proses pilkada, tetapi
ternyata mereka juga akhirnya tidak terpilih,” ujar sang kakek.
Sambil menyimak penuturan kakeknya, Musa
Hitam mengambil ubi rebus dan langsung memakannya.
Sang kakek kemudian menuturkan sebuah
cerita pertemuan antara seorang profesor dan seorang nelayan.
Suatu hari, kata sang kakek, seorang
profesor menyewa sebuah perahu untuk memancing di sebuah pulau.
Dalam perjalanan, sang profesor bertanya; “Bapak
nelayan, apakah bapak punya pengetahuan tentang ilmu geografi?”
“Ilmu geografi yang saya ketahui adalah
jika laut sudah mulai sering terjadi gelombang pasang, maka musim hujan segera
tiba,” jawab si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang
profesor mengatakan; “Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak
menguasai ilmu geografi, bapak sesungguhnya sudah kehilangan seperempat dari
kehidupan bapak.”
Tak lama kemudian, sang profesor kembali
bertanya.
“Apakah bapak punya pengetahuan tentang
biologi dan sains?” tanyanya.
“Pengetahuan saya tentang biologi hanya
jenis ikan apa yang dapat dimakan dan ikan apa yang tidak boleh dimakan,” jawab
si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang
profesor mengatakan; “Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak
menguasai ilmu biologi dan sains, bapak sesungguhnya sudah kehilangan
seperempat dari kehidupan bapak.”
Beberapa lama kemudian, sang profesor
lagi-lagi bertanya.
“Apakah bapak pernah belajar matematika?”
tanyanya.
“Matematika yang saya ketahui hanya cara
menimbang hasil tangkapan ikan, menghitung biaya yang sudah saya keluarkan, dan
menjual hasil tangkapan ikan agar dapat menghasilkan keuntungan yang cukup bagi
keluarga saya,” tutur si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang
profesor mengatakan; “Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak
menguasai matematika, bapak sesungguhnya sudah kehilangan seperempat dari
kehidupan bapak.”
Tetapi tak lama kemudian, awan tampak
hitam.
“Apa artinya awan hitam yang menggantung
di langit?” tanya sang profesor.
“Itu artinya badai dan topan akan segera
datang. Apakah bapak bisa berenang?” tanya si nelayan.
“Saya tidak bisa berenang,” jawab sang
profesor.
Mendengar jawaban sang profesor, si
nelayan mengatakan; “Sayang sekali bapak tidak bisa berenang. Saya bisa saja
kehilangan tiga perempat kehidupan saya, tetapi bapak akan kehilangan seluruh
kehidupan yang bapak miliki.”
Setelah berkata demikian, si nelayan
langsung melompat ke laut dan berenang ke pulau terdekat, sedangkan sang
profesor hanya bisa termangu dan mulai ketakutan karena air laut mulai
mengombang-ambingkan perahu.
Mendengar cerita sang kakek, Musa Hitam
tak bisa menahan tawanya, lalu keduanya pun tartawa-tawa di tengah sawah. Tawa
itu pecah, ringan, lalu menular. Keduanya tertawa di atas dangau, di tengah
sawah yang kembali senyap setelah suara mereka reda.
Di kejauhan, angin menggerakkan padi
seperti gelombang kecil. Kopi tubruk di cangkir mereka telah dingin, ubi rebus
tinggal separuh. Malam terus berjalan, tenang seperti air di permukaan.
Namun di benak Musa Hitam, satu hal
tertinggal: tak semua orang yang turun ke sebuah area bisa bertahan di
dalamnya. Ada yang pandai berbicara tentang arah, ada yang pandai membaca
tanda, tetapi hanya mereka yang tahu kapan harus berenang—dan kapan harus
menepi—yang selamat dari tenggelam.
Makassar, 22 Juli 2007 / 06 Januari 2026
@copyright Harian Pedoman Rakyat, Makassar, Senin, 23 Juli 2007, Rubrik "Lanskap", halaman 4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar