-----
CERPEN
Besok Ulang Tahun Pernikahan Kami
Karya: Asnawin Aminuddin
Tiga puluh tahun usia pernikahan kami.
Banyak suka duka kami lalui bersama. Banyak suka. Banyak duka.
Kami dikaruniai enam anak. Empat laki-laki.
Dua perempuan. Tiga anak kami sudah menikah, dua belum, dan anak bungsu kami
meninggal ketika masih bayi. Kini kami juga sudah punya dua cucu. Cucu pertama
perempuan. Cucu kedua laki-laki.
Sebenarnya, hidup kami sudah terasa cukup.
Sudah sempurna. Punya anak,
punya cucu. Dari suami istri, lalu menjadi orang tua, kemudian menjadi kakek
dan nenek. Saya dipanggil “Tetta”, istri saya dipanggil “Mama”. Cucu-cucu
memanggil saya “Nenek Tetta”. Istri saya dipanggil “Nenek Mama”.
Namun entah mengapa, rasa “sempurna” itu
belum benar-benar datang. Kami baru akan merasa sempurna bila semua anak kami
sudah berkeluarga. Punya rumah sendiri. Kendaraan sendiri. Dan hidup dalam kecukupan.
Tiga puluh tahun perjalanan biduk rumah
tangga ini kami lalui dengan penuh perjuangan. Berjuang mencari nafkah.
Berjuang menjaga keutuhan rumah tangga dan bertahan di tengah berbagai cobaan.
Kadang-kadang saya pulang larut malam. Bahkan
tak jarang harus menginap di kantor dan baru pulang keesokan paginya.
“Abah, kenapa tadi malam tidak pulangki’.
Tidak menelponki’ juga,” kata istri saya.
Ia memanggil saya “Abah”, dan saya memanggilnya
“Ummi”.
“Iye’, minta maaf ka’ Ummi, tertidurka’ di
kantor,” jawab saya.
Sering pula saya pulang dalam keadaan
sangat lelah. Namun, sesampainya di rumah, istri langsung meminta dipijat atau
mengajak ke toko membeli keperluan dapur.
“Abah, temanika’ dulu ke toko. Mauka’
belanja. Sabun mandi habis. Sabun cuci habis. Mie instan habis. Kopi juga
habis. Tisu sejak kemarin habis. Minyak goreng tinggal sedikit,” katanya.
Pada kesempatan lain, istri saya ingin
sekali jalan-jalan. Ia minta dibawa ke Pantai Losari, padahal saya baru saja
pulang dari perjalanan dinas dan tubuh terasa remuk.
“Abah, bosanka’ kurasa di rumah. Mauka’ jalan-jalan.
Lamami tidak ke Pantai Losari ki’,” katanya sambil merengek.
Tak jarang pula istri saya memaksa saya
mencari uang tambahan untuk membayar biaya sekolah anak-anak. Uang yang ada
sering kali tidak cukup. Terpaksa saya meminjam uang ke teman, dan kadang agak lama
baru bisa mengembalikannya.
Kami juga pernah mengontrakkan rumah kami
dan pindah ke rumah kontrakan karena ingin tinggal di dekat sekolah anak-anak.
Kalau kami tidak pindah, maka kami akan kewalahan mengantar jemput dua anak
kami yang masih duduk di bangku SD. Anak pertama kelas tiga, anak kedua kelas
satu.
“Abah, bagus barangkali kalau pindahki’,”
kata istri saya.
“Pindah kemana?” tanya saya.
“Pindah di dekat sekolahnya anak ta’.
Setengah matiki tiap hari antar-jemput ke sekolah,” katanya.
Saya membenarkan pendapat istri saya. Bukan
pekerjaan mudah mengantar jemput dua anak pakai sepeda motor. Mengantar pagi
dari rumah ke sekolah, dan menjemput keduanya pada siang hari. Kadang-kadang
saya menjemputnya pada sore hari bila ada pekerjaan yang tidak bisa
ditinggalkan.
Waktu itu belum ojek online. Taksi memang ada
tapi terlalu mahal bagi kami. Maka jalan terbaik adalah kami pindah rumah dan
ngontrak di dekat sekolah anak-anak kami. Rumah kami pun kami kontrakkan.
Lima tahun lamanya kami tinggal di rumah
kontrakan, sementara rumah sendiri kami sewakan.
Sekarang anak-anak sudah besar. Tiga sudah
menikah. Beban hidup kami terasa lebih
ringan. Tinggal dua anak yang belum berkeluarga,
dan kakak-kakaknya selalu membantu mama dan adik-adiknya.
Hari ini, anak-anak mengingatkan saya.
Besok ulang tahun pernikahan kami. Ulang tahun pernikahan yang ke-30. Sambil
bercanda mereka bertanya, “Apa tawwa hadiah ta’ untuk mama?”
Mereka bertanya kepada saya secara
diam-diam. Mereka ingin memberikan kejutan kepada mamanya.
Istri saya memang selalu berharap ada
hadiah ulang tahun pernikahan. Sejak tahun pertama. Tapi saya belum pernah
sekalipun memberinya hadiah berupa barang. Saya hanya selalu memberinya ciuman dan
kata-kata mesra.
Istri saya tentu senang tapi kadang
menyinggung hadiah. Meskipun sambil bercanda tapi rasanya agak “sakit” juga.
“Hadiahnya itu-itu terus. Sekali-sekali
kasi kado dong,” katanya sambil tertawa kecil.
Istri saya bercanda dan tersenyum tapi
hati saya rasanya “sakit” juga. Sebenarnya bukan tidak mau, tapi saya
menganggap untuk apa saya belikan kado. Toh semua uang saya, semua pendapatan
saya, saya serahkan kepadanya. Saya hanya menyimpan uang receh untuk pembeli
bensin dan makan di jalan bila sewaktu-waktu lapar.
Beberapa kali ban motor saya bocor di
jalan dan harus ditambal, sementara saya tidak punya uang sama sekali.
Pernah sekali waktu ban motor saya bocor.
Saya bawa ke bengkel. Saya tidak punya uang sama sekali. Saya hubungi seorang
teman dan kebetulan dia sedang berada di warkop tak jauh dari bengkel. Saya
sampaikan bahwa motor saya sementara ditambal dan saya tidak punya uang. Teman
saya langsung datang dan memberi uang untuk bayar ongkos tambal ban.
Sampai hari ini saya masih memakai sepeda
motor. Ingin rasanya punya mobil, tapi saya belum mampu. Kini saya sudah
purnabakti. Sudah pensiun. Tidak ada pekerjaan tetap. Saya lebih banyak membantu
istri berjualan kue dan makanan jadi.
Besok ulang tahun pernikahan kami yang
ke-30. Uang di dompet saya hanya Rp75.000. Di rekening mungkin ada Rp150.000.
Tidak cukup untuk mentraktir makan dan membeli kado. Makan bakso mungkin tidak
akan ditolaknya, tapi rasanya tidak pantas dijadikan hadiah ulang tahun
pernikahan.
Malam ini saya terbangun setelah tidur
beberapa jam. Saya memandangi wajah istri saya. Wajah perempuan yang saya
cintai. Wajah yang polos, apa adanya. Ia tidur pulas.
Saya tersenyum getir.
Besok ulang tahun pernikahan kami, dan
saya belum tahu hadiah apa yang akan saya berikan.
Saya kembali berbaring di sampingnya setelah
shalat. Saya kembali memandang wajah istri saya. Sambil memejamkan mata saya
membayangkan esok hari mengajaknya ke mal, menyuruhnya memilih pakaian, tas,
atau sepatu yang ia inginkan. Kemudian mengajaknya makan malam berdua, dalam
suasana yang romantis.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar