06 Januari 2026

Besok Ulang Tahun Pernikahan Kami

Saya kembali berbaring di sampingnya setelah shalat. Saya kembali memandang wajah istri saya. Sambil memejamkan mata saya membayangkan esok hari mengajaknya ke mal, menyuruhnya memilih pakaian, tas, atau sepatu yang ia inginkan. Kemudian mengajaknya makan malam berdua, dalam suasana yang romantis.
 



-----

CERPEN

 

Besok Ulang Tahun Pernikahan Kami

 

Karya: Asnawin Aminuddin

 

Tiga puluh tahun usia pernikahan kami. Banyak suka duka kami lalui bersama. Banyak suka. Banyak duka.

Kami dikaruniai enam anak. Empat laki-laki. Dua perempuan. Tiga anak kami sudah menikah, dua belum, dan anak bungsu kami meninggal ketika masih bayi. Kini kami juga sudah punya dua cucu. Cucu pertama perempuan. Cucu kedua laki-laki.

Sebenarnya, hidup kami sudah terasa cukup. Sudah sempurna. Punya anak, punya cucu. Dari suami istri, lalu menjadi orang tua, kemudian menjadi kakek dan nenek. Saya dipanggil “Tetta”, istri saya dipanggil “Mama”. Cucu-cucu memanggil saya “Nenek Tetta”. Istri saya dipanggil “Nenek Mama”.

Namun entah mengapa, rasa “sempurna” itu belum benar-benar datang. Kami baru akan merasa sempurna bila semua anak kami sudah berkeluarga. Punya rumah sendiri. Kendaraan sendiri. Dan hidup dalam kecukupan.

Tiga puluh tahun perjalanan biduk rumah tangga ini kami lalui dengan penuh perjuangan. Berjuang mencari nafkah. Berjuang menjaga keutuhan rumah tangga dan bertahan di tengah berbagai cobaan.

Kadang-kadang saya pulang larut malam. Bahkan tak jarang harus menginap di kantor dan baru pulang keesokan paginya.

“Abah, kenapa tadi malam tidak pulangki’. Tidak menelponki’ juga,” kata istri saya.

Ia memanggil saya “Abah”, dan saya memanggilnya “Ummi”.

“Iye’, minta maaf ka’ Ummi, tertidurka’ di kantor,” jawab saya.

Sering pula saya pulang dalam keadaan sangat lelah. Namun, sesampainya di rumah, istri langsung meminta dipijat atau mengajak ke toko membeli keperluan dapur.

“Abah, temanika’ dulu ke toko. Mauka’ belanja. Sabun mandi habis. Sabun cuci habis. Mie instan habis. Kopi juga habis. Tisu sejak kemarin habis. Minyak goreng tinggal sedikit,” katanya.

Pada kesempatan lain, istri saya ingin sekali jalan-jalan. Ia minta dibawa ke Pantai Losari, padahal saya baru saja pulang dari perjalanan dinas dan tubuh terasa remuk.

“Abah, bosanka’ kurasa di rumah. Mauka’ jalan-jalan. Lamami tidak ke Pantai Losari ki’,” katanya sambil merengek.

Tak jarang pula istri saya memaksa saya mencari uang tambahan untuk membayar biaya sekolah anak-anak. Uang yang ada sering kali tidak cukup. Terpaksa saya meminjam uang ke teman, dan kadang agak lama baru bisa mengembalikannya.

Kami juga pernah mengontrakkan rumah kami dan pindah ke rumah kontrakan karena ingin tinggal di dekat sekolah anak-anak. Kalau kami tidak pindah, maka kami akan kewalahan mengantar jemput dua anak kami yang masih duduk di bangku SD. Anak pertama kelas tiga, anak kedua kelas satu.

“Abah, bagus barangkali kalau pindahki’,” kata istri saya.

“Pindah kemana?” tanya saya.

“Pindah di dekat sekolahnya anak ta’. Setengah matiki tiap hari antar-jemput ke sekolah,” katanya.

Saya membenarkan pendapat istri saya. Bukan pekerjaan mudah mengantar jemput dua anak pakai sepeda motor. Mengantar pagi dari rumah ke sekolah, dan menjemput keduanya pada siang hari. Kadang-kadang saya menjemputnya pada sore hari bila ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Waktu itu belum ojek online. Taksi memang ada tapi terlalu mahal bagi kami. Maka jalan terbaik adalah kami pindah rumah dan ngontrak di dekat sekolah anak-anak kami. Rumah kami pun kami kontrakkan.

Lima tahun lamanya kami tinggal di rumah kontrakan, sementara rumah sendiri kami sewakan.

Sekarang anak-anak sudah besar. Tiga sudah menikah. Beban hidup kami terasa lebih ringan. Tinggal dua anak yang belum berkeluarga, dan kakak-kakaknya selalu membantu mama dan adik-adiknya.

Hari ini, anak-anak mengingatkan saya. Besok ulang tahun pernikahan kami. Ulang tahun pernikahan yang ke-30. Sambil bercanda mereka bertanya, “Apa tawwa hadiah ta’ untuk mama?”

Mereka bertanya kepada saya secara diam-diam. Mereka ingin memberikan kejutan kepada mamanya.

Istri saya memang selalu berharap ada hadiah ulang tahun pernikahan. Sejak tahun pertama. Tapi saya belum pernah sekalipun memberinya hadiah berupa barang. Saya hanya selalu memberinya ciuman dan kata-kata mesra.

Istri saya tentu senang tapi kadang menyinggung hadiah. Meskipun sambil bercanda tapi rasanya agak “sakit” juga.

“Hadiahnya itu-itu terus. Sekali-sekali kasi kado dong,” katanya sambil tertawa kecil.

Istri saya bercanda dan tersenyum tapi hati saya rasanya “sakit” juga. Sebenarnya bukan tidak mau, tapi saya menganggap untuk apa saya belikan kado. Toh semua uang saya, semua pendapatan saya, saya serahkan kepadanya. Saya hanya menyimpan uang receh untuk pembeli bensin dan makan di jalan bila sewaktu-waktu lapar.

Beberapa kali ban motor saya bocor di jalan dan harus ditambal, sementara saya tidak punya uang sama sekali.

Pernah sekali waktu ban motor saya bocor. Saya bawa ke bengkel. Saya tidak punya uang sama sekali. Saya hubungi seorang teman dan kebetulan dia sedang berada di warkop tak jauh dari bengkel. Saya sampaikan bahwa motor saya sementara ditambal dan saya tidak punya uang. Teman saya langsung datang dan memberi uang untuk bayar ongkos tambal ban.

Sampai hari ini saya masih memakai sepeda motor. Ingin rasanya punya mobil, tapi saya belum mampu. Kini saya sudah purnabakti. Sudah pensiun. Tidak ada pekerjaan tetap. Saya lebih banyak membantu istri berjualan kue dan makanan jadi.

Besok ulang tahun pernikahan kami yang ke-30. Uang di dompet saya hanya Rp75.000. Di rekening mungkin ada Rp150.000. Tidak cukup untuk mentraktir makan dan membeli kado. Makan bakso mungkin tidak akan ditolaknya, tapi rasanya tidak pantas dijadikan hadiah ulang tahun pernikahan.

Malam ini saya terbangun setelah tidur beberapa jam. Saya memandangi wajah istri saya. Wajah perempuan yang saya cintai. Wajah yang polos, apa adanya. Ia tidur pulas.

Saya tersenyum getir.

Besok ulang tahun pernikahan kami, dan saya belum tahu hadiah apa yang akan saya berikan.

Saya kembali berbaring di sampingnya setelah shalat. Saya kembali memandang wajah istri saya. Sambil memejamkan mata saya membayangkan esok hari mengajaknya ke mal, menyuruhnya memilih pakaian, tas, atau sepatu yang ia inginkan. Kemudian mengajaknya makan malam berdua, dalam suasana yang romantis.***


Tidak ada komentar: