KETUA Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr KH Alwi Uddin MAg, memberikan sambutan pada pembukaaan "Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan", di Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Sabtu, 15 November 2014. (Foto: Humas Muhammadiyah Sulsel)
-----
Kamis, 20 November
2014
Catatan
dari Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel (2):
Pendekatan Etnografi
dalam Penulisan Sejarah Muhammadiyah
Oleh:
Asnawin Aminuddin
(Wakil
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel)
Hari kedua
“Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan”, di
Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Ahad, 16 November 2014,
diawali dengan pemaparan dan pembahasan materi: “Etnografi Muhammadiyah: Teknik
Penulisan dengan Pendekatan Etnografi”, oleh Dr Tasrifin Tahara (antropolog
Unhas, Makassar).
Di hadapan
puluhan peserta yang terdiri atas utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)
se-Sulsel, Tasrifin terlebih dahulu menjelaskan pengertian etnografi, kemudian
dilanjutkan dengan tahapan penulisan etnografi, dan diakhii dengan teknik
penulisan autoetnografi.
“Etnografi
merupakan gambaran mengenai suku bangsa sebagai sebuah studi kasus yang
dilakukan dengan membuat deskripsi yang detail dan objektif,” kata staf
pengajar dan peneliti pada Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial
dan Politik (Fisipol), Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.
Penulisan
etnografi, kata Tasrifin, lekat dengan studi kasus. Ketika hendak menulis
etnografi Muhammadiyah, maka penulis harus memahami ideologi Muhammadiyah
sebagai bagian dari kebudayaan manusia dengan sistem agama Islam, dengan
mendeskripsikan wadah atau organisasinya, serta aktor atau pengurus dan
anggotanya.
Penulis
etnografi (etnografer) sebagaimana penerjemah, mempunyai tugas ganda. Tugas
pertama, etnografer harus memasuki suasana budaya yang ingin ia ketahui,
sedangkan tugas kedua yaitu menyampaikan makna budaya yang telah ditemukan
kepada para pembaca (yang tidak mengenal budaya atau suasana budaya itu).
“Penulis
etnografi harus memasuki bahasa dan pemikiran informan yang menjadi objek
penulisan, serta harus menjadikan simbol-simbol dan makna mereka sebagai milik
penulis,” tandas Tasrifin.
Semakin
sungguh-sungguh penulis memahami dan mencerna sistem makna budaya yang
dipelajari oleh informan objek penelitiannya, tambahnya, maka semakin efektif
penerjemahan akhir penulisannya.
Sebagai
penerjemah makna budaya, kata Tasrifin. penulis etnografi harus mengembangkan
keahlian menyampaikan makna budaya ke dalam tulisan.
Sebuah
penerjemahan yang benar-benar efektif, menuntut suatu pengetahuan yang mendalam
mengenai dua kebudayaan, yakni kebudayaan yang dideskripsikan, dan kebudayaan
yang dipegang secara tersirat oleh khalayak, yang akan membaca deskripsi itu.
Komunikasi
Tertulis
Penulis
etnografi yang sangat terampil sekalipun, banyak yang gagal menyelesaikan karya
penerjemahan etnografinya, karena mereka tidak mempelajari bagaimana keahlian
dalam komunikasi tertulis, tidak memahami khalayaknya, serta tidak merasakan
pentingnya komunikasi dengan cara menghidupkan kebudayaan itu dalam tulisannya.
“Padahal
mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempelajari secara intensif
kebudayaan lain, kemudian menganalisis secara mendetail makna-makna yang
dikodekan dalam kebudayaan,” ungkap Tasrifin.
Kelemahan
lain dan itu cukup mendasar dari ketidak-tepatan penerjemahan budaya, menurut
dia, terletak pada kegagalan penulis etnografi untuk memahami dan menggunakan
beberapa tahapan dalam menulis yang berbeda.
“Selama
penulisan deskripsi etnografi apa saja, penulis harus mengingat berbagai
tahapan dan menggunakannya secara sadar untuk meningkatkan kekuatan komunikatif
terjemahan itu,” tegasnya.
Enam
Tahapan Penulisan Etnografi
Sangat
banyak tahapan dalam tulisan akhir sebuah etnografi, dan itu akan menentukan
nilai komunikasi sebuah penerjemahan karya etnografi.
Tasrifin
menyebut sedikitnya ada enam tahapan yang berbeda yang dapat diidentifikasi
dalam penulisan etnografi, ketika penulis bergerak dari hal umum ke hal khusus.
Keenam
tahap itu, adalah pertama, pernyataan-pernyataan universal. Kedua,
pernyataan-pernyataan deskriptif lintas budaya. Ketiga, pernyataan umum
mengenai suatu masyarakat atau kelompok budaya. Keempat, pernyataan umum
mengenai suatu suasana budaya yang spesifik. Kelima, pernyataan spesifik
mengenai sebuah domain budaya. Keenam, pernyataan insiden spesifik.
Pernyataan-pernyataan
universal (tahap pertama) meliputi semua pernyataan mengenai umat manusia,
perilaku mereka, kebudayaan mereka, atau situasi lingkungan mereka.
“Sebuah
studi tentang organisasi Muhammadiyah misalnya, akan menegaskan bahwa dalam
sebuah organisasi (sekretariat), para anggota akan berdiskusi, membaca,
mengaji, serta mengatur gerak badannya di dalam ruang dengan cara sedemikian
rupa sehingga menciptakan keteraturan,” sebut Tasrifin.
Pernyataan-pernyataan
deskriptif lintas budaya (tahap kedua), meliputi pernyataan-pernyataan mengenai
dua kelompok masyarakat atau lebih. Statemen dalam tahapan abstraksi ini
meliputi berbagai penegasan yang luas menurut beberapa kelompok masyarakat, tetapi
tidak harus untuk semua kelompok masyarakat.
“Pernyataan
deskriptif lintas budaya, membantu dalam menempatkan suatu suasana budaya dalam
gambaran budaya manusia yang lebih luas,” kata Tasrifin.
Pernyataan
umum mengenai suatu masyarakat atau kelompok budaya (tahap ketiga),
kelihatannya spesifik, tetapi sesungguhnya masih sangat umum.
Pada tahap
keempat yang memuat pernyataan umum mengenai suatu suasana budaya yang
spesifik, penulis mencatat banyak pernyataan mengenai suatu budaya atau suasana
budaya tertentu.
Selanjutnya,
pada tahap kelima mengenai pernyataan spesifik mengenai sebuah domain budaya,
penulis etnografi mulai menggunakan berbagai istilah asli informan dan berbagai
kontras spesifik yang diperoleh dari informan.
“Pada
tahap kelima ini, penulis etnografi perlu membuat deskripsi naratif guna
menerjemahkan informasi yang diperoleh dari informan,” ujar Tasrifin.
Tahapan
terakhir (tahap keenam) mengenai pernyataan insiden spesifik, mengantarkan
pembaca segera pada tahap aktual tingkah laku dan objek. Pembaca dapat segera
melihat berbagai hal yang terjadi, dan mungkin merasakan berbagai hal yang
dirasakan oleh para pelaku.
“Sebuah
terjemahan etnografis yang baik akan menunjukkan, sedangkan yang kurang baik
hanya akan menceritakan,” tandasnya.
Autoetnografi
Muhammadiyah
Penulisan
sejarah dan profil Muhammadiyah yang ditulis oleh anggota dan atau pengurus
Muhammadiyah dengan pendekatan etnografi, dapat disebut sebagai autoetnografi
Muhammadiyah.
Autoetnografi
memungkinkan penulis melihat aneka peristiwa dalam lintasan tempat, dan ide
yang dialami dalam perjalanan hidup yang cukup panjang.
Merujuk
pada wacana etnografi baru sebagaimana diungkapkan Clifford (1988),
autoetnografi mampu menggambarkan proses persentuhan individu dengan berbagai
peristiwa yang niscaya terjadi dalam masyarakat modern saat seseorang terkena
berbagai pengaruh budaya dari luar.
“Dengan
demikian, sudut pandang, pendapat, ide yang ada pada diri seseorang (yang
merupakan negosiasi nilai budaya yang dia pegang), pengaruh nilai budaya baru,
serta situasi yang dihadapinya, dapat digambarkan,” tutur Tasrifin.
Penggunaan
bermacam-macam dokumen dan riwayat kehidupan orang lain sebagai sebuah teks
untuk dikaji, katanya, mendorong etnografi menyeberang keluar masuk antara
fakta (hasil riset) dan fiksi (hasil permenungan).
Dengan
interpretasi seorang ahli, autobiografi dapat ditransfer menjadi autoetnografi
melalui transformasi pengalaman individual kepada pengalaman kultural. Kasus
yang dialami seseorang sebagai anggota masyarakat, direkam dan disampaikan
dalam bentuk narasi personal dan dengan kerangka teoritis tertentu dijelaskan
dengan sebuah peristiwa budaya.
“Cara ini
akan meningkatkan otoritas etnografer dalam menggambarkan kenyataan yang
dialaminya,” kata Tasrifin.
Kelemahan
Autoetnografi
Meskipun
demikian, lanjut Tasrifin, ada banyak keterbatasan atau kelemahan dari
autoetnografi, karena tidak semua partisipan kebudayaan, mempunyai kemampuan
untuk membuat sendiri autoetnografinya, sedangkan para etnografer seringkali
tidak mengalami peristiwa yang cukup signifikan untuk dikaitkan dengan sejarah.
Rekaman
pengalaman seseorang juga tidak banyak yang tertuang dalam dokumen atau karya
yang dapat diakses orang lain.
Selain
itu, autoetnografi mempunyai kelemahan analitis dalam hal transformasi
pengalaman individual ke tingkat kultural, justru karena keterbukaannya melihat
budaya luar yang merasuk ke individu.
Di akhir
pemaparannya, Tasrifin mengatakan bahwa di balik berbagai kelemahannya,
autoetnografi tetaplah sebuah alternatif.
“Menyediakan sebuah dokumen mengenai kehidupan itu sendiri, merupakan suatu hal yang sangat penting, apalagi jika dihasilkan oleh pemegang otoritas tertingginya, yaitu pelaku,” pungkasnya. (bersambung)
.....
Tulisan Bagian 3: Penulisan Sejarah Muhammadiyah Lewat Penelitian Dokumen
Tulisan Bagian 1: Empat Langkah Penulisan Sejarah Muhammadiyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar