FOTO BERSAMA. Pemateri, panitia, dan sebagian peserta Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel, foto bersama seusai penutupan, di Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Ahad, 16 November 2014. Workshop yang berlangsung dua hari tersebut diikuti puluhan peserta utusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sulsel. (Dok. Pribadi)
-----
Jumat, 21 November
2014
Catatan
dari Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel (3-habis):
Penulisan Sejarah
Muhammadiyah Lewat Penelitian Dokumen
Oleh:
Asnawin Aminuddin
(Wakil
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel)
Ilmu
sejarah sesungguhnya tidak mempelajari masa lampau. Ilmu sejarah mempelajari
sumber sejarah atau peninggalan dari masa lampau, seperti dokumen-dokumen,
arsip, dan kesaksian lisan.
Untuk
merekonstruksi sejarah perkembangan organisasi Muhammadiyah dalam suatu bentuk
karya sejarah ilmiah yang objektif dan terverifikasi, dibutuhkan sejumlah
sumber data dari masa lalu.
Data-data
dari masa lalu itu dapat diperoleh terutama melalui penelitian dokumen, berupa
arsip atau berita sezaman (koran atau majalah masa lalu yang bersifat ilmiah),
yang memiliki bobot integritas dan originalitas tinggi.
Sejarawan
Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof A Rasyid Asba, mengatakan, data
arsip yang memuat informasi tentang Muhammadiyah selama era kolonial, antara
lain disimpan di Arsip Nasional RI (ANRI), Jakarta.
Sumber
terpenting yang memuat informasi primer tersebut adalah Politiek Verslag dari
koleksi Memorie van Overgave seri 4e. Laporan politik per semester yang dimulai
tahun 1927 hingga 1941, memuat sejumlah informasi tentang organisasi massa
(politik dan sosial), elite tradisional, intelektual, pers, dan kegiatan orang
asing.
“Untuk
Sulawesi Selatan, laporan politik mengupas kegiatan semua organisasi, termasuk
Muhammadiyah. Laporan yang ditulis oleh Kepala Dinas Inteligen Keresidenan
Celebes en Onderhoorigheden ini menguraikan tentang aktivitas Muhammadiyah,
termasuk juga dialognya dengan aliran-aliran Islam lainnya, dan kegiatannnya di
bidang organisasi umat,” tutur Rasyid, saat jadi pembicara pada Workshop
Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel, di Kampus Universitas
Muhammadiyah Parepare (Umpar), Ahad, 16 November 2014.
Mengenai
aktivitas Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kegiatan sosial lainnya,
katanya, koleksi Memorie van Overgave seri 1e, terutama untuk rol nomor 32-33,
memberikan banyak informasi.
Koleksi
arsip tersebut merupakan laporan setiap kepala daerah pada akhir masa
jabatannya. Rel nomor 32-33 merupakan koleksi laporan kepala daerah tiap
distrik di Sulawesi Selatan, misalnya Distrik Sungguminasa, Distrik Bone,
Distrik Takalar, Distrik Bulukumba, Distrik Bontain, Distrik Mamasa, Distrik
Palopo, dan sebagainya.
“Pada
bagian laporan yang membahas tentang pendidikan, terdapat informasi mengenai
aktivitas organisasi Muhammadiyah dan perkembangannya di tiap distrik,” ungkap
Rasyid.
Selain
bentuk laporan dari kedua khasanah tersebut, arsip yang mencakup Muhammadiyah
juga bisa ditelusuri dari koleksi Algemeen Secretarie, yaitu kumpulan arsip
Sekretaris Umum yang terdiri atas berkas-berkas (besluit) yang dikeluarkan oleh
Gubernur Jenderal.
Dari
koleksi tersebut, kata Rasyid Asba, dapat diketahui adanya keputusan pemerintah
yang berkaitan dengan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, selama periode sampai
dengan 1942.
![]() |
| Prof. A. Rasyid Asba. |
Sumber
informasi lainnya, yaitu sumber sezaman yang perlu digali untuk melengkapi data
yang berasal dari pemerintah. Sumber arsip sezaman ini adalah berita surat
kabar yang terbit pada periode penelitian, terutama di daerah yang menjadi
objek spasialnya.
Sebelum
mengadakan penelusuran dan penelitian atas surat kabar dan majalah, terlebih
dahulu dibuka melalui katalog. Caranya adalah menemukan artikel dalam surat
kabar atau majalah langka dengan membuka Reportorium van Nederlandsch Indie
(periode 1595 - 1932), dan Indisch Pers Overzicht (IPO) pada periode 1920
hingga 1942.
“Di antara
surat kabar ini terdapat dua klasifikaosi besar, yaitu berbahasa Belanda, dan
berbahasa Melayu. Koleksi surat kabar ini tersimpan di Perpustakaan Nasional
RI,” papar Rasyis.
Beberapa
surat kabar seperti Het nieuws van den dag, Algemeens Handelsblad, Java Bode,
De Indische Courant, dan lain-lain, merupakan salah satu sumber informasi
non-pemerintah tentang Muhammadiyah, meskipun dari sudut pandang Belanda.
“Beberapa
surat kabar yang terbit sezaman di Makassar dan berbahasa Melayu, juga
memberikan informasi tentang organisasi Muhammadiyah,” kata Rasyid.***
.....
Tulisan Bagian 2: Pendekatan Etnografi dalam Penulisan Sejarah Muhammadiyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar