Berhentilah Bermimpi
Oleh Asnawin
email: asnawin@hotmail.com
BENCANA itu akhirnya datang juga. Linangan air mata akhirnya tak bisa dibendung. Apa yang dikhawatirkan banyak orang selama ini, akhirnya terbukti.
Ratusan ribu siswa SMA dan SMP di Negeri Ajaib tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN). Ratusan ribu siswa di Negeri Ajaib terpaksa menangis.
Di beberapa daerah, siswa yang tidak lulus bukannya menangis, melainkan marah dan melakukan tindakan anarkis. Ada yang memorak-porandakan seluruh bangku dan meja, ada yang memecahkan kaca, dan ada pula yang membakar gedung sekolahnya.
Banyak di antara mereka yang sebenarnya pintar dan bagus nilai rata-rata ujiannya. Banyak di antara mereka yang sebenarnya berbakat dan bagus prestasinya. Tetapi mereka akhirnya tidak lulus hanya gara-gara satu mata pelajaran dalam UN yang nilainya rendah.
''Saya tidak mengerti. Bagaimana bisa ada anak pintar tetapi tidak lulus UN?'' tanya seorang anggota DPRD kepada adik sepupunya yang seorang guru.
''Ada beberapa penyebab atau faktor yang memengaruhi,'' kata sang guru.
Dia kemudian menjelaskan bahwa ada anak yang sangat menyukai mata pelajaran tertentu, tetapi tidak suka kepada mata pelajaran lain.
Ada anak yang menyukai mata pelajaran non-eksak, tetapi sebaliknya tidak suka mata pelajaran eksak. Ada juga anak yang sebenarnya menyukai semua mata pelajaran, tetapi kemampuannya untuk menguasai salah satu atau beberapa mata pelajaran tertentu, memang rendah.
''Dan celakanya, biar pun nilai ulangan hariannya bagus, tetapi nilai UN-nya di bawah standar, tetap tidak bisa diluluskan. Anak yang bagus nilai UN-nya pun belum tentu lulus, apalagi kalau memang nilai UN-nya di bawah standar,'' tutur sang guru.
''Maksudnya?'' tanya si anggota DPRD.
''Selain nilai UN, masih ada penilaian lain seperti ulangan harian, tingkah laku, dan kedisiplinan,'' jelas sang guru.
Mendengar penjelasan sepupunya, politisi yang mantan pengacara itu hanya manggut-manggut, namun tak lama kemudian ia kembali bertanya.
''Tetapi mengapa sampai begitu banyak siswa yang tidak lulus, bahkan ada beberapa daerah yang persentase ketidaklulusannya agak tinggi,'' tanyanya.
''Itu memang selalu dipertanyakan orang,'' kata sang guru.
''Ada yang curiga bahwa mungkin beredar kunci jawaban palsu,'' kata si anggota dewan.
''Terlepas dari ada tidaknya kunci jawaban palsu, terus terang kami para guru memang selalu berupaya membantu siswa, karena kami tahu kemampuan mereka dan kami juga malu kalau banyak siswa kami yang tidak lulus, apalagi secara tidak langsung memang ada instruksi dari atas untuk membantu siswa,'' tutur sang guru.
''Begitukah?'' tanya si anggota dewan.
''Ah, kakanda ini serius atau pura-pura tidak tahu,'' tanya kata sang guru.
''Saya pernah dengar sepintas, tetapi tidak pernah mendengar pengakuan langsung dari guru dan kepala sekolah,'' ungkap si anggota dewan.
Terlalu Dipaksakan
Terus terang, kata sang guru, pelaksanaan UN sebenarnya terlalu dipaksakan dan secara tidak langsung merebut hak guru untuk mengevaluasi anak didiknya.
Dipaksakan karena kondisi sekolah, fasilitas, sarana, dan prasarana antara sekolah di kota besar dengan sekolah di pelosok desa sangat jauh berbeda. Kemampuan dan fasilitas yang dimiliki guru di kota dan di desa juga jauh berbeda.
Sekolah di kota bagus dan lengkap fasilitasnya, sedangkan sekolah di desa banyak rusak dan fasilitasnya sangat minim.
Anak-anak di kota bisa dengan bebas memilih lembaga kursus dan lembaga bimbingan belajar yang ingin dimasuki untuk menambah pengetahuan dan melatih keterampilan mereka. Di kota juga banyak warung internet (warnet), banyak perpustakaan, banyak toko buku, serta banyak koran dan majalah.
Bandingkan dengan anak di desa yang mungkin menyentuh komputer pun tidak pernah. Bandingkan dengan anak di desa yang mungkin memegang handphone pun tidak pernah.
Para guru di kota memiliki banyak kesempatan mengikuti seminar, diskusi, workshop, dan pelatihan, sehingga wawasan, pengetahuan, dan pengalaman mereka cukup banyak. Dalam mengajar pun, guru di kota mungkin sudah melakukan berbagai metode, mulai dari metode diskusi, simulasi, dan belajar di alam terbuka.
Bandingkan dengan guru di desa yang hampir tidak punya peluang mengikuti seminar, diskusi, workshop, dan pelatihan. Bandingkan dengan guru di desa yang karena berbagai kendala, hanya melakukan satu metode mengajar yakni metode ceramah.
''Kalau begitu, UN memang terlalu dipaksakan ya?'' tanya si anggota dewan.
''Sebenarnya tujuannya bagus untuk memacu semangat belajar siswa dan itu cukup berhasil, tetapi mimpi pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mengadakan UN, terlalu tinggi,'' kata sang guru.
Yang terjadi, katanya, anak-anak memang bersemangat belajar, guru, kepala sekolah, dan para orangtua pun sibuk membantu, tetapi semangat dan bantuan itu semata-mata untuk membuat siswa lulus, bukan untuk pintar.
Lembaga bimbingan belajar pun hanya mengajarkan berbagai simulasi pengerjaan soal-soal yang bertujuan agar siswa lulus dalam ujian. Soal-soal yang diberikan hanya yang sering muncul dalam UN dan dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
Banyak materi pelajaran dalam kurikulum yang diabaikan oleh lembaga bimbingan belajar, karena UN juga mengabaikannya.
''Seandainya diberi kesempatan bertemu dengan Wapres dan Mendiknas, saya akan bilang berhentilah bermimpi. Bangunlah dan lihatlah kenyataan yang ada di lapangan. Lihatlah betapa mimpi bapak-bapak telah menelan begitu banyak korban. Lihatlah betapa mimpi bapak-bapak telah merusak proses pendidikan di sekolah dan di luar sekolah,'' ujar sang guru.
''Tetapi bukankah bagi siswa yang tidak lulus di sekolah, masih bisa ikut ujian kesetaraan?'' kata si anggota dewan.
''Ujian Paket C setara SMA dan ujian Paket B setara SMP itu dulu sebenarnya diperuntukkan bagi orang yang mau cari pekerjaan, bukan untuk lanjut sekolah, tetapi karena negeri kita Negeri Ajaib, maka pemerintah bisa dengan mudah mengubah kebijakannya,'' tutur sang guru.
Yang lucu, lanjut sang guru, siswa SMK juga boleh ikut ujian Paket C, padahal Paket C itu setara SMA, bukan setara SMK.
''Kasihan anak-anak kita. Tiga tahun belajar di SMA, SMK, atau MA, tetapi akhirnya mendapatkan ijazah Paket C yang dikeluarkan Dinas Pendidikan. Jadi mereka bukan alumni sekolah tertentu, melainkan alumni Dinas Pendidikan,'' papar sang guru.
Mendengar penuturan adik sepupunya, si anggota dewan tidak lagi bertanya.
Makassar, 17 Juni 2007
(Dimuat di Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 18 Juni 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
30 Juli 2007
29 Juli 2007
Kota Terjorok di Negeri Liliput
Kota Terjorok di Negeri Liliput
Oleh Asnawin
------------------
email:
asnawin@hotmail.com
KONON, Kota Teduh Bersinar, di Negeri Liliput, dulu sangat subur, teduh, dan bersih. Penduduknya ramah dan terbilang religius. Keamanan pun terjamin.
Seiring perkembangan zaman dan banyaknya 'pengaruh luar', baik karena kedatangan 'orang luar' maupun karena arus informasi dan komunikasi, Kota Teduh Bersinar perlahan-lahan mulai berubah.
Banyak pohon yang ditebang, termasuk pohon yang tumbuh berjejer di pinggir jalan. Banyak orang yang membuang sampah sembarangan.
Tingkat keramahan penduduk juga perlahan-lahan berkurang. Kalau dulu masjid selalu penuh dan ramai, kini mulai sepi jemaahnya. Peristiwa kriminal pun mulai banyak.
Karena jumlah penduduk semakin banyak, arus lalu lintas pun kian padat dan tak jarang terjadi kemacetan arus lalu lintas.
Tempat prostitusi berkedok tempat hiburan malam (THM), hotel, wisma, panti pijat, dan salon, juga makin 'menjamur.'
Sungai dan kanal dalam kota yang dulunya berair bersih dan bening, kini sudah dipenuhi sampah dan sebagian menimbulkan bau tak sedap.
Pedagang kaki lima sejak dulu memang sudah ada, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sekarang, pedagang kaki lima bukan cuma ada di sekitar pasar, melainkan sudah ada di mana-mana.
Belasan tahun lalu, Kota Teduh Bersinar masih tergolong bersih, tertib, dan teduh. Atas prestasinya itu, Raja Negeri Liliput kemudian memberikan Piala Adipura. Saking gembiranya, Wali Kota Teduh Bersinar ketika itu langsung membuat Tugu Piala Adipura.
Malu dan Sedih
Kini, tugu itu masih ada, tetapi justru karena keberadaannya itulah, Aladin yang menjabat Wali Kota Teduh Bersinar, jadi malu.
Malu kepada Raja Negeri Liliput, malu kepada Gubernur Suka Bersih, malu kepada rekan-rekannya sesama wali kota dan bupati, serta malu kepada rakyatnya.
Pria berusia sekitar 40 tahun itu malu karena Kementerian Lingkungan Hidup memberikan angka terendah dalam penilaian Piala Kebersihan tahun ini.
Ketua salah satu partai politik itu malu karena kotanya dicap sebagai 'Kota Terjorok' di Negeri Liliput.
Semua media cetak memberitakan dengan judul besar 'Teduh Bersinar Kota Terjorok'. Media elektronik meramaikannya dengan berbagai komentar dari berbagai kalangan, termasuk dari mantan wali kota.
Karena merasa malu, Aladin kemudian memutuskan meninggalkan kota selama beberapa hari. Kepada wakil wali kota (wawali) dan sekretaris kota (sekkot), ia mengatakan akan menemui kedua orangtuanya yang hidup bertani di salah satu kabupaten.
Kepada orangtuanya, Aladin mengemukakan bahwa ia merasa malu karena kota yang dipimpinnya dicap sebagai Kota Terjorok di Negeri Liliput.
Dengan sedih Aladin mengatakan bahwa dirinya sudah banyak berbuat dan bahkan meraih beberapa penghargaan atas berbagai prestasinya sebagai wali kota, tetapi cap sebagai kota terjorok meruntuhkan segalanya.
Mendengar keluhan dan melihat kesedihan anaknya, ayah Aladin yang juga pernah menjadi bupati, mengingatkan agar dia tidak larut dalam kesedihan.
Ia menyarankan kepada Aladin agar menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah dihadapi, karena itu jauh lebih berarti dibanding berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.
''Kalau seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran bisa menjadi kosong, dan hidup terasa hampa seolah-olah kita tak berguna lagi,'' katanya.
Aladin juga diingatkan agar memerhatikan dengan seksama orang-orang yang ada di sekelilingnya.
''Boleh jadi kamu membenci seseorang, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai seseorang, padahal ia amat buruk bagimu,'' ujar sang ayah.
Dia juga mengingatkan bahwa Tuhan tidak mungkin menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hambaNya.
Sebuah cobaan, kata ayahnya, mungkin terasa berat di awalnya, tetapi mungkin saja ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
''Kalau kita mampu menarik hikmah dari cobaan yang kita hadapi, mungkin hikmah itulah nanti yang akan menyelamatkan kita. Kembalilah ke kota dan optimislah, doa kami selalu menyertaimu. Mudah-mudahan penduduk Kota Teduh Bersinar bisa kembali bersimpati dan percaya akan kemampuanmu,'' tutur ayah Aladin.
Makassar, 10 Juni 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 11 Juni 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik "lanskap")
Oleh Asnawin
------------------
email:
asnawin@hotmail.com
KONON, Kota Teduh Bersinar, di Negeri Liliput, dulu sangat subur, teduh, dan bersih. Penduduknya ramah dan terbilang religius. Keamanan pun terjamin.
Seiring perkembangan zaman dan banyaknya 'pengaruh luar', baik karena kedatangan 'orang luar' maupun karena arus informasi dan komunikasi, Kota Teduh Bersinar perlahan-lahan mulai berubah.
Banyak pohon yang ditebang, termasuk pohon yang tumbuh berjejer di pinggir jalan. Banyak orang yang membuang sampah sembarangan.
Tingkat keramahan penduduk juga perlahan-lahan berkurang. Kalau dulu masjid selalu penuh dan ramai, kini mulai sepi jemaahnya. Peristiwa kriminal pun mulai banyak.
Karena jumlah penduduk semakin banyak, arus lalu lintas pun kian padat dan tak jarang terjadi kemacetan arus lalu lintas.
Tempat prostitusi berkedok tempat hiburan malam (THM), hotel, wisma, panti pijat, dan salon, juga makin 'menjamur.'
Sungai dan kanal dalam kota yang dulunya berair bersih dan bening, kini sudah dipenuhi sampah dan sebagian menimbulkan bau tak sedap.
Pedagang kaki lima sejak dulu memang sudah ada, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sekarang, pedagang kaki lima bukan cuma ada di sekitar pasar, melainkan sudah ada di mana-mana.
Belasan tahun lalu, Kota Teduh Bersinar masih tergolong bersih, tertib, dan teduh. Atas prestasinya itu, Raja Negeri Liliput kemudian memberikan Piala Adipura. Saking gembiranya, Wali Kota Teduh Bersinar ketika itu langsung membuat Tugu Piala Adipura.
Malu dan Sedih
Kini, tugu itu masih ada, tetapi justru karena keberadaannya itulah, Aladin yang menjabat Wali Kota Teduh Bersinar, jadi malu.
Malu kepada Raja Negeri Liliput, malu kepada Gubernur Suka Bersih, malu kepada rekan-rekannya sesama wali kota dan bupati, serta malu kepada rakyatnya.
Pria berusia sekitar 40 tahun itu malu karena Kementerian Lingkungan Hidup memberikan angka terendah dalam penilaian Piala Kebersihan tahun ini.
Ketua salah satu partai politik itu malu karena kotanya dicap sebagai 'Kota Terjorok' di Negeri Liliput.
Semua media cetak memberitakan dengan judul besar 'Teduh Bersinar Kota Terjorok'. Media elektronik meramaikannya dengan berbagai komentar dari berbagai kalangan, termasuk dari mantan wali kota.
Karena merasa malu, Aladin kemudian memutuskan meninggalkan kota selama beberapa hari. Kepada wakil wali kota (wawali) dan sekretaris kota (sekkot), ia mengatakan akan menemui kedua orangtuanya yang hidup bertani di salah satu kabupaten.
Kepada orangtuanya, Aladin mengemukakan bahwa ia merasa malu karena kota yang dipimpinnya dicap sebagai Kota Terjorok di Negeri Liliput.
Dengan sedih Aladin mengatakan bahwa dirinya sudah banyak berbuat dan bahkan meraih beberapa penghargaan atas berbagai prestasinya sebagai wali kota, tetapi cap sebagai kota terjorok meruntuhkan segalanya.
Mendengar keluhan dan melihat kesedihan anaknya, ayah Aladin yang juga pernah menjadi bupati, mengingatkan agar dia tidak larut dalam kesedihan.
Ia menyarankan kepada Aladin agar menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah dihadapi, karena itu jauh lebih berarti dibanding berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.
''Kalau seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran bisa menjadi kosong, dan hidup terasa hampa seolah-olah kita tak berguna lagi,'' katanya.
Aladin juga diingatkan agar memerhatikan dengan seksama orang-orang yang ada di sekelilingnya.
''Boleh jadi kamu membenci seseorang, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai seseorang, padahal ia amat buruk bagimu,'' ujar sang ayah.
Dia juga mengingatkan bahwa Tuhan tidak mungkin menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hambaNya.
Sebuah cobaan, kata ayahnya, mungkin terasa berat di awalnya, tetapi mungkin saja ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
''Kalau kita mampu menarik hikmah dari cobaan yang kita hadapi, mungkin hikmah itulah nanti yang akan menyelamatkan kita. Kembalilah ke kota dan optimislah, doa kami selalu menyertaimu. Mudah-mudahan penduduk Kota Teduh Bersinar bisa kembali bersimpati dan percaya akan kemampuanmu,'' tutur ayah Aladin.
Makassar, 10 Juni 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 11 Juni 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik "lanskap")
Perdamaian, Pencurian, dan Perkosaan
Perdamaian, Pencurian, dan Perkosaan
Oleh Asnawin
Lagu 'perdamaian' bergema di seluruh negeri, baik di radio maupun televisi. Banyak orang yang tidak tahu masalah, bertanya-tanya. Ada apa lagu 'perdamaian' diputar berulang-ulang.
''Ada apakah itu sampai radio dan televisi memutar lagu perdamaian?'' tanya seorang ibu rumah tangga dengan dialek Makassar, kepada suaminya.
''Makanya baca koran atau nonton tivi,'' jawab suaminya.
''Saya 'kan selalu baca koran dan suka nonton tivi,'' kata si istri.
''Tapi ibu baca koran hanya mau lihat resep masakan dan berita kriminal. Nonton tivi juga hanya sinetron dan infotaimen. Sekali-sekali baca juga perkembangan politik,'' sindir suaminya sambil tersenyum.
''Bilangmaki saja pak, ada apa sampai radio dan tivi memutar lagu perdamaian,'' desak si istri.
Suaminya kemudian menjelaskan bahwa Presiden dan mantan Ketua MPR sudah bertemu dan 'berdamai'. Kedua tokoh itu sebelumnya terlibat perseteruan setelah mantan Ketua MPR mengungkapkan bahwa dirinya menerima dana ilegal dari salah satu departemen saat menjadi menjadi calon presiden pada Pemilu lalu.
Mantan Ketua MPR yang profesor dan kini 'kembali ke jalan lurus' dengan mengajar di almamaternya, juga mengatakan kemungkinan semua capres dan cawapres pada pemilu lalu, turut menerima dana ilegal dari departemen yang sama. Tokoh reformasi itu menambahkan bahwa mungkin juga ada pasangan capres dan cawapres yang menerima dana asing secara ilegal.
Merasa terpojok dengan pernyataan itu, Presiden bereaksi dengan mengadakan jumpa wartawan di halaman istana negara.
Dengan gayanya yang khas, pria yang berlatar belakang militer itu mengancam akan menuntut orang dan pihak-pihak lain yang dianggap telah memfitnahnya terkait dana ilegal dan dana asing untuk dirinya pada pemilu lalu.
''Opini yang berkembang telah menyinggung harga diri saya selaku Presiden,'' kata Presiden dengan mata merah.
Mantan Ketua MPR tidak takut dengan ancaman itu dan bahkan siap menghadapinya. Ancaman Presiden dan pernyataan mantan Ketua MPR itu kemudian menjadi berita besar seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik.
Polemik dan berbagai spekulasi pun berkembang, tetapi tidak sampai sepekan kemudian, kedua tokoh itu kemudian bertemu dan 'berdamai'.
Mendengar penjelasan suaminya, si istri hanya berkata; ''Oh.''
Pencurian
Namun tak lama kemudian, si istri kembali mengajukan pertanyaan.
''Pak, di koran juga ada berita anggota DPRD kota yang mencuri listrik. Betulkah itu, pak?'' tanyanya.
''Bukan anggota dewan yang mencuri. Cuma kebetulan hotelnya kedapatan mencuri listrik,'' jawab suaminya.
''Samaji itu pak,'' kata si istri.
''Tidak sama, karena bisa saja anggota dewan itu tidak tahu apa-apa,'' ujar suaminya.
Mendengar jawaban suaminya, si istri hanya berkata; ''Oh.''
Perkosaan
Tidak lama kemudian, si istri kembali bertanya.
''Apakah bapak juga membaca berita daerah di koran tentang seorang ayah memerkosa anaknya sampai hamil dan melahirkan?'' tanyanya.
''Saya baca beritanya setelah teman-teman di warung kopi membicarakannya,'' jawab suaminya.
''Bejatnya itu kalau ada seorang ayah memerkosa dan menghamili anaknya. Terus anaknya itu nanti kalau sudah besar mau panggil apa, bapak atau dato','' tanya si istri.
''Saya kira anak itu nanti disuruh panggil bapak, karena kalau panggil dato', pasti dia akan bertanya, siapa dan di mana bapaknya. Kalau si anak sudah punya bapak dan masih bertanya di mana dato'-nya, jawabnya mudah saja. Si bapak pasti akan bilang dato'-nya sudah tidak ada,'' ujar suaminya.
Mendengar jawaban suaminya, si istri hanya terdiam dan tidak lagi berkata ''Oh.''
Makassar, 3 Juni 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 4 Juni 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
Oleh Asnawin
Lagu 'perdamaian' bergema di seluruh negeri, baik di radio maupun televisi. Banyak orang yang tidak tahu masalah, bertanya-tanya. Ada apa lagu 'perdamaian' diputar berulang-ulang.
''Ada apakah itu sampai radio dan televisi memutar lagu perdamaian?'' tanya seorang ibu rumah tangga dengan dialek Makassar, kepada suaminya.
''Makanya baca koran atau nonton tivi,'' jawab suaminya.
''Saya 'kan selalu baca koran dan suka nonton tivi,'' kata si istri.
''Tapi ibu baca koran hanya mau lihat resep masakan dan berita kriminal. Nonton tivi juga hanya sinetron dan infotaimen. Sekali-sekali baca juga perkembangan politik,'' sindir suaminya sambil tersenyum.
''Bilangmaki saja pak, ada apa sampai radio dan tivi memutar lagu perdamaian,'' desak si istri.
Suaminya kemudian menjelaskan bahwa Presiden dan mantan Ketua MPR sudah bertemu dan 'berdamai'. Kedua tokoh itu sebelumnya terlibat perseteruan setelah mantan Ketua MPR mengungkapkan bahwa dirinya menerima dana ilegal dari salah satu departemen saat menjadi menjadi calon presiden pada Pemilu lalu.
Mantan Ketua MPR yang profesor dan kini 'kembali ke jalan lurus' dengan mengajar di almamaternya, juga mengatakan kemungkinan semua capres dan cawapres pada pemilu lalu, turut menerima dana ilegal dari departemen yang sama. Tokoh reformasi itu menambahkan bahwa mungkin juga ada pasangan capres dan cawapres yang menerima dana asing secara ilegal.
Merasa terpojok dengan pernyataan itu, Presiden bereaksi dengan mengadakan jumpa wartawan di halaman istana negara.
Dengan gayanya yang khas, pria yang berlatar belakang militer itu mengancam akan menuntut orang dan pihak-pihak lain yang dianggap telah memfitnahnya terkait dana ilegal dan dana asing untuk dirinya pada pemilu lalu.
''Opini yang berkembang telah menyinggung harga diri saya selaku Presiden,'' kata Presiden dengan mata merah.
Mantan Ketua MPR tidak takut dengan ancaman itu dan bahkan siap menghadapinya. Ancaman Presiden dan pernyataan mantan Ketua MPR itu kemudian menjadi berita besar seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik.
Polemik dan berbagai spekulasi pun berkembang, tetapi tidak sampai sepekan kemudian, kedua tokoh itu kemudian bertemu dan 'berdamai'.
Mendengar penjelasan suaminya, si istri hanya berkata; ''Oh.''
Pencurian
Namun tak lama kemudian, si istri kembali mengajukan pertanyaan.
''Pak, di koran juga ada berita anggota DPRD kota yang mencuri listrik. Betulkah itu, pak?'' tanyanya.
''Bukan anggota dewan yang mencuri. Cuma kebetulan hotelnya kedapatan mencuri listrik,'' jawab suaminya.
''Samaji itu pak,'' kata si istri.
''Tidak sama, karena bisa saja anggota dewan itu tidak tahu apa-apa,'' ujar suaminya.
Mendengar jawaban suaminya, si istri hanya berkata; ''Oh.''
Perkosaan
Tidak lama kemudian, si istri kembali bertanya.
''Apakah bapak juga membaca berita daerah di koran tentang seorang ayah memerkosa anaknya sampai hamil dan melahirkan?'' tanyanya.
''Saya baca beritanya setelah teman-teman di warung kopi membicarakannya,'' jawab suaminya.
''Bejatnya itu kalau ada seorang ayah memerkosa dan menghamili anaknya. Terus anaknya itu nanti kalau sudah besar mau panggil apa, bapak atau dato','' tanya si istri.
''Saya kira anak itu nanti disuruh panggil bapak, karena kalau panggil dato', pasti dia akan bertanya, siapa dan di mana bapaknya. Kalau si anak sudah punya bapak dan masih bertanya di mana dato'-nya, jawabnya mudah saja. Si bapak pasti akan bilang dato'-nya sudah tidak ada,'' ujar suaminya.
Mendengar jawaban suaminya, si istri hanya terdiam dan tidak lagi berkata ''Oh.''
Makassar, 3 Juni 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 4 Juni 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
Kafilah Terpaksa Singgah
Kafilah Terpaksa Singgah
(Oleh Asnawin)
DUA setengah tahun menjabat Presiden Negeri Antah-berantah, tiada putus-putusnya masalah yang dihadapi Pak Sulit Bakambang. Baik masalah bencana alam, konflik di daerah, hingga masalah politik.
Meskipun demikian, Pak Sulit Bakambang bersama wakilnya, Pak Judes Kata, tetap kelihatan tegar menghadapi segalanya.
Ketika ada bencana alam, Pak Sulit Bakambang dan Pak Judes Kata berupaya terjun langsung ke lokasi untuk membawa bantuan dan memberikan semangat kepada warga yang tertimpa musibah.
Saat ada konflik di daerah, keduanya juga berupaya mengamankan situasi dengan berbagai pendekatan. Sewaktu para politisi dan sebagian elemen masyarakat menginginkan pergantian kabinet, Pak Sulit dan Pak Judes meresponnya dengan mengganti dan menggeser posisi beberapa menteri.
Semua masalah diatasi dengan 'sebaik-baiknya'. Tak ada masalah yang dihadapi dengan marah, termasuk berbagai kritik pedas.
Pak Sulit Bakambang yang memang selalu tampil tenang dan berwibawa, menghadapi berbagai kritikan dan isu secara bijak. Pak Sulit memang berlatar-belakang militer dan mantan Kepala Staf Panglima Perang, tetapi ia sama sekali tidak sangar dan tidak angker, malahan ia tampak lebih sipil dibanding orang sipil murni.
Meskipun tampak senantiasa memberikan respon dan menghadapi berbagai masalah, kritikan, dan isu dengan tenang, tetap saja orang mengkritisinya, tetap ada orang mengungkapkan isu-isu negatif. Malahan ada yang menyebut dirinya ibarat 'kafilah yang tetap berlalu, meskipun anjing menggonggong.''
Pak Sulit misalnya tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang semakin mahalnya biaya pendidikan, minimnya alokasi anggaran pendidikan dalam APBN, serta banyaknya siswa SMA dan SMP tidak lulus akibat kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang menentukan kelulusan.
Pak Sulit juga tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang tingginya kenaikan harga BBM yang menyebabkan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Pak Sulit memang merespon ketika sebagian elemen rakyat menginginkan pergantian beberapa menteri, tetapi ada menteri yang tetap dipertahankan dan hanya digeser posisinya, padahal menteri itulah yang sebenarnya diinginkan rakyat untuk diganti. Yang pasti, semua kritikan dihadapi dengan tenang dan dirinya tetap berupaya tampil berwibawa.
Namun ketika muncul isu bahwa semua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemilu dua tahun lalu, turut menerima sumbangan dana non-budgeter salah satu departemen, Pak Sulit tampaknya tidak tahan juga untuk tidak memberikan reaksi. Apalagi, ada isu tambahan bahwa salah satu pasangan capres dan cawapres menerima sumbangan dari pihak asing yang jumlahnya cukup besar.
Reaksi Pak Sulit malah agak berlebihan, karena ia mengancam akan menuntut orang dan pihak-pihak lain yang dianggap telah memfitnahnya terkait aliran dana non-budgeter maupun dana asing untuk dirinya bersama Pak Judes saat kampanye Pamilu lalu.
Ia bahkan mengadakan konferensi pers khusus di halaman Kompleks Istana Kepresidenan, dan menegaskan bahwa opini yang berkembang telah menyinggung harga dirinya.
Pak Sulit menandaskan bahwa opini maupun isu yang diembuskan orang atau pihak-pihak tertentu selama ini soal dana non-budgeter maupun dana asing adalah fitnah yang kejam dan keji.
''Itu artinya kafilah terpaksa singgah. Presiden bersama kafilahnya terpaksa singgah, karena anjing bukan cuma menggonggong, melainkan juga sudah pandai dan berani bicara,'' ujar seorang seniman kepada rekannya seusai pentas pada perayaan acara Hari Kebangkitan Nasional tingkat kelurahan.
''Padahal Presiden kita itu sebenarnya bukan pemarah dan juga bukan orang tamak,'' kata rekannya.
''Kelihatannya memang begitu,'' ujar si seniman.
''Tetapi bagaimana dengan orang-orang sekitarnya? Siapa yang bisa menjamin bahwa presiden kita itu tidak dikelilingi orang-orang pemarah dan orang tamak.'' kata rekannya.
''Kalaupun orang-orang di sekitarnya ada yang pemarah dan tamak, kita berharap presiden kita sadar dan mau menyadarkan orang-orang itu, seperti sadarnya seorang Sultan ketika tidak dihormati seorang rakyatnya saat melakukan parade keliling kota,'' ungkap si seniman.
Sultan dan Rakyat Biasa
Si seniman kemudian bercerita bahwa konon ratusan tahun silam ada seorang Sultan yang sangat dihormati dan ditakuti rakyatnya. Sesekali ia berparade di jalan-jalan untuk melihat keadaan rakyatnya dan untuk melihat apakah rakyat masih menghormati dan takut kepadanya.
Suatu hari sang Sultan bersama para pengawal dan tentaranya melakukan parade. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang rakyat biasa.
Sang Sultan marah dan segera memerintahkan tentaranya untuk memanggil si rakyat yang tidak mau memberi hormat itu.
Setelah diperhadapkan dan ditanyai mengapa dirinya tidak menunduk dan memberi hormat kepada Sultan, rakyat biasa itu mengatakan; "Biarlah semua orang menghormat kepada Sultan. Mereka mungkin takut dan sebagian dari mereka mungkin menginginkan sesuatu dari Sultan, misalnya harta, kedudukan, dan atau kekuasaan. Tetapi itu semua tidak berarti bagi hamba. Untuk apa hamba menghormat kepada Sultan apabila hamba punya dua budak yang merupakan tuan-tuan Sultan?''
Meskipun tutur kata si rakyat biasa itu sopan, Sultan dan semua orang yang mendengarnya menjadi ternganga. Sultan menjadi marah dan wajahnya memerah.
"Apa maksudmu wahai rakyat jelata?" bentaknya.
"Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan ketamakan," jawab si rakyat jelata dengan tenang.
Sultan akhirnya sadar dan kemarahannya perlahan-lahan sirna. Saat itu juga ia mengucapkan terima kasih dan memberi penghormatan kepada si rakyat jelata.
Mendengar cerita itu, rekan si seniman tampak tersenyum dan manggut-manggut.
''Seharusnya presiden kita itu tidak perlu marah menghadapi berbagai kritikan dan isu, apalagi kalau memang tidak benar, karena reaksi dan kemarahannya bisa menjadi diskusi panjang serta merembet masalah-masalah lain,'' katanya.
''Kewibawaannya juga bisa menurun bahkan bisa runtuh kalau kemudian terbukti bahwa ia menerima dana non-budgeter dan dana asing pada Pemilu lalu,'' timpal si seniman.
Makassar, 27 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 28 Mei 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
(Oleh Asnawin)
DUA setengah tahun menjabat Presiden Negeri Antah-berantah, tiada putus-putusnya masalah yang dihadapi Pak Sulit Bakambang. Baik masalah bencana alam, konflik di daerah, hingga masalah politik.
Meskipun demikian, Pak Sulit Bakambang bersama wakilnya, Pak Judes Kata, tetap kelihatan tegar menghadapi segalanya.
Ketika ada bencana alam, Pak Sulit Bakambang dan Pak Judes Kata berupaya terjun langsung ke lokasi untuk membawa bantuan dan memberikan semangat kepada warga yang tertimpa musibah.
Saat ada konflik di daerah, keduanya juga berupaya mengamankan situasi dengan berbagai pendekatan. Sewaktu para politisi dan sebagian elemen masyarakat menginginkan pergantian kabinet, Pak Sulit dan Pak Judes meresponnya dengan mengganti dan menggeser posisi beberapa menteri.
Semua masalah diatasi dengan 'sebaik-baiknya'. Tak ada masalah yang dihadapi dengan marah, termasuk berbagai kritik pedas.
Pak Sulit Bakambang yang memang selalu tampil tenang dan berwibawa, menghadapi berbagai kritikan dan isu secara bijak. Pak Sulit memang berlatar-belakang militer dan mantan Kepala Staf Panglima Perang, tetapi ia sama sekali tidak sangar dan tidak angker, malahan ia tampak lebih sipil dibanding orang sipil murni.
Meskipun tampak senantiasa memberikan respon dan menghadapi berbagai masalah, kritikan, dan isu dengan tenang, tetap saja orang mengkritisinya, tetap ada orang mengungkapkan isu-isu negatif. Malahan ada yang menyebut dirinya ibarat 'kafilah yang tetap berlalu, meskipun anjing menggonggong.''
Pak Sulit misalnya tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang semakin mahalnya biaya pendidikan, minimnya alokasi anggaran pendidikan dalam APBN, serta banyaknya siswa SMA dan SMP tidak lulus akibat kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang menentukan kelulusan.
Pak Sulit juga tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang tingginya kenaikan harga BBM yang menyebabkan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Pak Sulit memang merespon ketika sebagian elemen rakyat menginginkan pergantian beberapa menteri, tetapi ada menteri yang tetap dipertahankan dan hanya digeser posisinya, padahal menteri itulah yang sebenarnya diinginkan rakyat untuk diganti. Yang pasti, semua kritikan dihadapi dengan tenang dan dirinya tetap berupaya tampil berwibawa.
Namun ketika muncul isu bahwa semua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemilu dua tahun lalu, turut menerima sumbangan dana non-budgeter salah satu departemen, Pak Sulit tampaknya tidak tahan juga untuk tidak memberikan reaksi. Apalagi, ada isu tambahan bahwa salah satu pasangan capres dan cawapres menerima sumbangan dari pihak asing yang jumlahnya cukup besar.
Reaksi Pak Sulit malah agak berlebihan, karena ia mengancam akan menuntut orang dan pihak-pihak lain yang dianggap telah memfitnahnya terkait aliran dana non-budgeter maupun dana asing untuk dirinya bersama Pak Judes saat kampanye Pamilu lalu.
Ia bahkan mengadakan konferensi pers khusus di halaman Kompleks Istana Kepresidenan, dan menegaskan bahwa opini yang berkembang telah menyinggung harga dirinya.
Pak Sulit menandaskan bahwa opini maupun isu yang diembuskan orang atau pihak-pihak tertentu selama ini soal dana non-budgeter maupun dana asing adalah fitnah yang kejam dan keji.
''Itu artinya kafilah terpaksa singgah. Presiden bersama kafilahnya terpaksa singgah, karena anjing bukan cuma menggonggong, melainkan juga sudah pandai dan berani bicara,'' ujar seorang seniman kepada rekannya seusai pentas pada perayaan acara Hari Kebangkitan Nasional tingkat kelurahan.
''Padahal Presiden kita itu sebenarnya bukan pemarah dan juga bukan orang tamak,'' kata rekannya.
''Kelihatannya memang begitu,'' ujar si seniman.
''Tetapi bagaimana dengan orang-orang sekitarnya? Siapa yang bisa menjamin bahwa presiden kita itu tidak dikelilingi orang-orang pemarah dan orang tamak.'' kata rekannya.
''Kalaupun orang-orang di sekitarnya ada yang pemarah dan tamak, kita berharap presiden kita sadar dan mau menyadarkan orang-orang itu, seperti sadarnya seorang Sultan ketika tidak dihormati seorang rakyatnya saat melakukan parade keliling kota,'' ungkap si seniman.
Sultan dan Rakyat Biasa
Si seniman kemudian bercerita bahwa konon ratusan tahun silam ada seorang Sultan yang sangat dihormati dan ditakuti rakyatnya. Sesekali ia berparade di jalan-jalan untuk melihat keadaan rakyatnya dan untuk melihat apakah rakyat masih menghormati dan takut kepadanya.
Suatu hari sang Sultan bersama para pengawal dan tentaranya melakukan parade. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang rakyat biasa.
Sang Sultan marah dan segera memerintahkan tentaranya untuk memanggil si rakyat yang tidak mau memberi hormat itu.
Setelah diperhadapkan dan ditanyai mengapa dirinya tidak menunduk dan memberi hormat kepada Sultan, rakyat biasa itu mengatakan; "Biarlah semua orang menghormat kepada Sultan. Mereka mungkin takut dan sebagian dari mereka mungkin menginginkan sesuatu dari Sultan, misalnya harta, kedudukan, dan atau kekuasaan. Tetapi itu semua tidak berarti bagi hamba. Untuk apa hamba menghormat kepada Sultan apabila hamba punya dua budak yang merupakan tuan-tuan Sultan?''
Meskipun tutur kata si rakyat biasa itu sopan, Sultan dan semua orang yang mendengarnya menjadi ternganga. Sultan menjadi marah dan wajahnya memerah.
"Apa maksudmu wahai rakyat jelata?" bentaknya.
"Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan ketamakan," jawab si rakyat jelata dengan tenang.
Sultan akhirnya sadar dan kemarahannya perlahan-lahan sirna. Saat itu juga ia mengucapkan terima kasih dan memberi penghormatan kepada si rakyat jelata.
Mendengar cerita itu, rekan si seniman tampak tersenyum dan manggut-manggut.
''Seharusnya presiden kita itu tidak perlu marah menghadapi berbagai kritikan dan isu, apalagi kalau memang tidak benar, karena reaksi dan kemarahannya bisa menjadi diskusi panjang serta merembet masalah-masalah lain,'' katanya.
''Kewibawaannya juga bisa menurun bahkan bisa runtuh kalau kemudian terbukti bahwa ia menerima dana non-budgeter dan dana asing pada Pemilu lalu,'' timpal si seniman.
Makassar, 27 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 28 Mei 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
Nabi Juga Dipenjara
Nabi Juga Dipenjara
(oleh Asnawin)
NABI adalah orang mulia, karena mereka adalah utusan Sang Khalik. Presiden adalah orang mulia, karena mereka adalah orang yang diberikan amanat untuk memimpin dan mengatur negara.
Bupati di era otonomi ini juga orang mulia, karena mereka dipilih dan mendapat amanat dari rakyat untuk mengelola pemerintahan kabupaten.
Profesor pasti juga orang mulia, karena mereka adalah Guru Besar, suatu jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.
Apakah kemuliaan seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan luntur kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara? Apakah seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan menjadi hina dina kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara?
''Belum tentu,'' jawab seorang pimpinan bank swasta atas pertanyaan yang diajukan seorang pengusaha saat keduanya ngobrol di sebuah kafe.
Pimpinan bank yang berusia sekitar 50 tahun itu, mengatakan, banyak orang tidak bersalah masuk penjara, dan sebaliknya tidak sedikit orang bersalah yang lolos dari jerat hukum.
Kalau ada menteri yang diduga terlibat korupsi, tidak bisa dijerat hukum, itu bisa dimaklumi, karena aturan di negara kita tidak memungkinkan seorang menteri menjadi tersangka dan diadili tanpa seizin presiden.
''Itu sih semua orang tahu, tapi bagaimana pun, seorang menteri tetap akan tercoreng namanya kalau sudah terbentuk opini publik bahwa dia terlibat korupsi,'' kata sang pengusaha.
''Kita ini bicara seolah-olah kita orang bersih, padahal kita juga kadang-kadang mencuri dan menyogok,'' kata si pimpinan bank sambil tersenyum.
''Tapi kita bukan koruptor, karena kita tidak mencuri uang negara dan kita bukan pejabat,'' timpal si pengusaha juga sambil tertawa.
''Jadi, kita tidak mungkin masuk penjara,'' ujar si pimpinan bank sambil memegang perutnya yang terasa agak sakit.
Yusuf dan Sulaeha
Seusai makan malam, si pengusaha bersama isteri, anak perempuannya yang kelas tiga SMP, serta mertua laki-lakinya, santai di ruang tengah.
Si anak mengatakan bahwa gurunya tadi pagi di sekolah mengaku sedih karena ada berita profesor masuk penjara.
''Ayah juga sedih, karena seharusnya mereka menjadi teladan,'' kata si pengusaha.
''Ayah, apakah profesor itu benar-benar korupsi?'' tanya si anak.
''Mudah-mudahan tidak. Bisa saja karena difitnah. Nabi Yusuf juga dipenjara, tetapi beliau tidak bersalah,'' potong mertua si pengusaha.
Kakek yang baru beberapa hari datang dari kampung itu kemudian menuturkan kisah Nabi Yusuf dan Sulaeha.
''Nabi Yusuf sebenarnya dibeli sebagai budak oleh keluarga Sulaeha, sejak ia masih remaja, tetapi ternyata ia tumbuh besar dengan perawakan bagus dan wajah sangat tampan,'' cerita si kakek.
Sulaeha yang juga cantik dan awet muda kemudian jatuh cinta kepada Nabi Yusuf, tetapi cintanya ditolak karena Nabi Yusuf sangat menghormati majikannya, Futhifar, suami Sulaeha. Futhifar sehari-hari adalah pejabat kerajaan.
Suatu hari ketika si suami tidak ada di rumah, Sulaeha memanggil Yusuf ke kamar tidurnya untuk memijat punggungnya. Tiba-tiba Sulaeha mengunci pintu dan meminta Yusuf melepaskan rindunya serta memuaskan nafsu syahwatnya. Namun, Yusuf menolak.
Sulaeha marah. Yusuf yang ketakutan kemudian berlari dan membuka pintu, tetapi Sulaeha berhasil mengejarnya dan menarik baju Yusuf kuat-kuat hingga robek.
Saat itulah datang Futhifar dan melihat adanya ketidakberesan.
Tanpa memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Sulaeha cepat-cepat kepada suaminya bahwa Yusuf telah berani secara kurang ajar masuk ke kamar tidurnya dan ingin memerkosanya. Ia kemudian meminta suaminya agar memenjarakan dan menyiksa Yusuf.
Futhifar tidak langsung percaya. Dia meminta pendapat kepada iparnya, saudara Sulaeha.
''Kalau baju Yusuf terkoyak di bagian belakangnya, maka dialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya, kalau baju Yusuf terkoyak di bagian depan, maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar," kata iparnya yang dikenal pandai dan bijaksana.
Mendengar pertimbangan tersebut dan melihat bahwa baju Yusuf robek di bagian belakang, Futhifar kemudian meminta isterinya bertobat. Ia meminta Yusuf dan seluruh penghuni rumah merahasiakan kejadian tersebut dan menganggap masalah sudah selesai.
Nabi Yusuf yang takut akan terulang bujukan Sulaeha, kemudian mengadu kepada Sang Khalik bahwa dirinya lebih baik dipenjara dari pada harus memperturutkan hawa nafsu majikannya.
Secara kebetulan, kejadian antara Yusuf dan Sulaeha juga sudah bocor dan menjadi pembicaraan umum. Untuk menutupi malu, Sulaeha meminta suaminya memenjarakan Yusuf dan permintaan itu terpaksa dipenuhi Futhifar.
''Begitulah kisahnya sehingga Nabi Yusuf dipenjara,'' tutur si kakek menutup ceritanya.
Makassar, 20 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 21 Mei 2007,
halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
(oleh Asnawin)
NABI adalah orang mulia, karena mereka adalah utusan Sang Khalik. Presiden adalah orang mulia, karena mereka adalah orang yang diberikan amanat untuk memimpin dan mengatur negara.
Bupati di era otonomi ini juga orang mulia, karena mereka dipilih dan mendapat amanat dari rakyat untuk mengelola pemerintahan kabupaten.
Profesor pasti juga orang mulia, karena mereka adalah Guru Besar, suatu jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.
Apakah kemuliaan seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan luntur kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara? Apakah seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan menjadi hina dina kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara?
''Belum tentu,'' jawab seorang pimpinan bank swasta atas pertanyaan yang diajukan seorang pengusaha saat keduanya ngobrol di sebuah kafe.
Pimpinan bank yang berusia sekitar 50 tahun itu, mengatakan, banyak orang tidak bersalah masuk penjara, dan sebaliknya tidak sedikit orang bersalah yang lolos dari jerat hukum.
Kalau ada menteri yang diduga terlibat korupsi, tidak bisa dijerat hukum, itu bisa dimaklumi, karena aturan di negara kita tidak memungkinkan seorang menteri menjadi tersangka dan diadili tanpa seizin presiden.
''Itu sih semua orang tahu, tapi bagaimana pun, seorang menteri tetap akan tercoreng namanya kalau sudah terbentuk opini publik bahwa dia terlibat korupsi,'' kata sang pengusaha.
''Kita ini bicara seolah-olah kita orang bersih, padahal kita juga kadang-kadang mencuri dan menyogok,'' kata si pimpinan bank sambil tersenyum.
''Tapi kita bukan koruptor, karena kita tidak mencuri uang negara dan kita bukan pejabat,'' timpal si pengusaha juga sambil tertawa.
''Jadi, kita tidak mungkin masuk penjara,'' ujar si pimpinan bank sambil memegang perutnya yang terasa agak sakit.
Yusuf dan Sulaeha
Seusai makan malam, si pengusaha bersama isteri, anak perempuannya yang kelas tiga SMP, serta mertua laki-lakinya, santai di ruang tengah.
Si anak mengatakan bahwa gurunya tadi pagi di sekolah mengaku sedih karena ada berita profesor masuk penjara.
''Ayah juga sedih, karena seharusnya mereka menjadi teladan,'' kata si pengusaha.
''Ayah, apakah profesor itu benar-benar korupsi?'' tanya si anak.
''Mudah-mudahan tidak. Bisa saja karena difitnah. Nabi Yusuf juga dipenjara, tetapi beliau tidak bersalah,'' potong mertua si pengusaha.
Kakek yang baru beberapa hari datang dari kampung itu kemudian menuturkan kisah Nabi Yusuf dan Sulaeha.
''Nabi Yusuf sebenarnya dibeli sebagai budak oleh keluarga Sulaeha, sejak ia masih remaja, tetapi ternyata ia tumbuh besar dengan perawakan bagus dan wajah sangat tampan,'' cerita si kakek.
Sulaeha yang juga cantik dan awet muda kemudian jatuh cinta kepada Nabi Yusuf, tetapi cintanya ditolak karena Nabi Yusuf sangat menghormati majikannya, Futhifar, suami Sulaeha. Futhifar sehari-hari adalah pejabat kerajaan.
Suatu hari ketika si suami tidak ada di rumah, Sulaeha memanggil Yusuf ke kamar tidurnya untuk memijat punggungnya. Tiba-tiba Sulaeha mengunci pintu dan meminta Yusuf melepaskan rindunya serta memuaskan nafsu syahwatnya. Namun, Yusuf menolak.
Sulaeha marah. Yusuf yang ketakutan kemudian berlari dan membuka pintu, tetapi Sulaeha berhasil mengejarnya dan menarik baju Yusuf kuat-kuat hingga robek.
Saat itulah datang Futhifar dan melihat adanya ketidakberesan.
Tanpa memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Sulaeha cepat-cepat kepada suaminya bahwa Yusuf telah berani secara kurang ajar masuk ke kamar tidurnya dan ingin memerkosanya. Ia kemudian meminta suaminya agar memenjarakan dan menyiksa Yusuf.
Futhifar tidak langsung percaya. Dia meminta pendapat kepada iparnya, saudara Sulaeha.
''Kalau baju Yusuf terkoyak di bagian belakangnya, maka dialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya, kalau baju Yusuf terkoyak di bagian depan, maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar," kata iparnya yang dikenal pandai dan bijaksana.
Mendengar pertimbangan tersebut dan melihat bahwa baju Yusuf robek di bagian belakang, Futhifar kemudian meminta isterinya bertobat. Ia meminta Yusuf dan seluruh penghuni rumah merahasiakan kejadian tersebut dan menganggap masalah sudah selesai.
Nabi Yusuf yang takut akan terulang bujukan Sulaeha, kemudian mengadu kepada Sang Khalik bahwa dirinya lebih baik dipenjara dari pada harus memperturutkan hawa nafsu majikannya.
Secara kebetulan, kejadian antara Yusuf dan Sulaeha juga sudah bocor dan menjadi pembicaraan umum. Untuk menutupi malu, Sulaeha meminta suaminya memenjarakan Yusuf dan permintaan itu terpaksa dipenuhi Futhifar.
''Begitulah kisahnya sehingga Nabi Yusuf dipenjara,'' tutur si kakek menutup ceritanya.
Makassar, 20 Mei 2007
(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 21 Mei 2007,
halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')
Langganan:
Postingan (Atom)