Budayawan lain mengatakan; “Benar Yang Mulia Raja. Pilihlah yang berjiwa pemimpin, bukan pemimpi atau tukang mimpi, karena pemimpi itu hanya bisa berkhayal, berangan-angan, dan bermimpi tentang sesuatu yang muluk-muluk, tetapi ia tidak pernah melakukan upaya yang benar, serta tidak punya pengalaman dan kemampuan untuk mewujudkan mimpinya.”Pemimpi(n)
Oleh: Asnawin
Aminuddin
Raja Negeri
Antah-berantah sedang gundah-gulana. Hatinya gundah karena banyak hal. Mulai
dari urusan penerus tahta kerajaan, soal pemerintahan, sampai kepada soal-soal
kerakyatan.
Usianya sudah
sangat sepuh, tetapi ia belum bisa menentukan siapa di antara enam putranya
yang paling pantas menjadi raja.
Selain soal tahta
kerajaan, Sang Raja juga gundah karena banyak masalah yang perlu diatasi dalam
pemerintahan. Ada kasus bank sentral kerajaan, dan ada permintaan dana aspirasi
yang jumlahnya cukup besar dari beberapa anggota parlemen kerajaan.
Rakyat juga sudah
mulai berani melakukan aksi protes atas beberapa kebijakan kerajaan. Raja pun
gundah dengan beredarnya di tengah masyarakat lukisan adegan porno yang mirip
seorang penyanyi terkenal bersama seorang pemain teater terkenal di Negeri
Antah-berantah.
Untunglah saat itu
tengah berlangsung kejuaraan sepakbola antar-negeri selama sebulan penuh di
negeri tetangga, sehingga perhatian sebagian rakyat tidak lagi terfokus kepada
masalah pemilihan calon raja baru dan berbagai masalah lainnya.
Raja benar-benar
masygul. Ia sudah berkali-kali berbicara dengan permaisuri dan penasehat
kerajaan, tetapi dirinya belum bisa memilih satu di antara enam putranya untuk
menjadi raja. Ketika ia mengumpulkan keenam putranya dan membahas siapa di
antara mereka yang dianggap paling pantas menjadi raja, ternyata mereka semua
merasa pantas.
Putra pertama dan
putra kedua yang sudah berusia lebih dari 60 tahun mengaku pantas menjadi raja,
karena telah berpengalaman sebagai menteri kerajaan.
Putra ketiga juga
merasa pantas menjadi raja, karena dirinya punya pengalaman dan sukses dalam
bidang perdagangan, punya banyak uang, serta kini juga tengah menjabat sebagai
raja salah satu Anak Negeri.
Putra keempat tak
mau kalah. Ia merasa pantas menjadi raja, karena dirinya adalah salah seorang
hulubalang senior dan rakyat butuh pemimpin yang mampu memberikan rasa aman
seperti dirinya.
Putra kelima yang
juga punya pengalaman dalam bidang perdagangan dan pernah mengetuai parlemen
kerajaan, pun merasa pantas menjadi raja.
Si bungsu yang
kini masih duduk dalam parlemen kerajaan, juga tak mau ketinggalan. Ia merasa
pantas menjadi raja karena sudah dua periode duduk dalam parlemen kerajaan dan
pernah menjabat kepala adat pada salah satu Anak Negeri.
Karena belum bisa
memilih, raja kemudian diam-diam mendatangi seorang pemuka agama untuk meminta
masukan.
“Maaf Yang Mulia
Raja, ini hanya sekadar saran. Kalau ada di antara mereka yang tidak terlalu
berambisi, yang paling dapat dipercaya, yang paling jujur, yang paling cerdas,
yang paling bijaksana, yang paling bagus komunikasinya, serta yang paling dekat
dengan rakyat, maka itulah yang paling pantas menjadi raja,” kata sang pemuka
agama.
Jawaban tersebut
membuat raja makin gundah. Ia kemudian memanggil dan meminta masukan dari
beberapa seniman dan budayawan.
Salah seorang
seniman mengusulkan agar raja memilih satu di antara enam putra mahkota yang
benar-benar berjiwa pemimpin, yaitu mereka yang mampu menuntun, membimbing,
memandu, melatih, dan mendidik orang yang dipimpinnya.
Budayawan lain
mengatakan; “Benar Yang Mulia Raja. Pilihlah yang berjiwa pemimpin, bukan
pemimpi atau tukang mimpi, karena pemimpi itu hanya bisa berkhayal,
berangan-angan, dan bermimpi tentang sesuatu yang muluk-muluk, tetapi ia tidak
pernah melakukan upaya yang benar, serta tidak punya pengalaman dan kemampuan
untuk mewujudkan mimpinya.”
Raja tetap masygul
dan gundah-gulana. Ia masih belum bisa memilih satu di antara enam putranya
untuk menggantikannya sebagai Raja Negeri Antah-berantah. Ia berharap dapat
menjatuhkan pilihan yang tepat, agar kerajaan dapat memberikan kesejahteraan,
kedamaian, keamanan, dan ketenangan bagi rakyat banyak. ***
.....
Keterangan:
- Esai ini dimuat
oleh harian Radar Bulukumba, halaman 3, Senin, 14 Juni 2010
-
http://www.radarbulukumba.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar